logo
×

Minggu, 20 November 2016

5 Penyebab Ahok Ditinggal Pendukung, dari Status Tersangka sampai Kekhawatiran Dilanda Gejolak Sosial

5 Penyebab Ahok Ditinggal Pendukung, dari Status Tersangka sampai Kekhawatiran Dilanda Gejolak Sosial

NUSANEWS - Hasil analisis peneliti dari hasil survei terbaru Lingkaran Survei Indonesia (LSI DENNY JA) menyimpulkan bahwa ada lima hal yang menjadi penyebab petahana Basuki Tjahaja Purnama ditinggal pendukungnya.

Survei yang dilakukan secara tatap muka terhadap 440 responden dengan Margin of Error ± 4.8 persen tanggal 31 Oktober- 5 November 2016 itu, memaparkan alasannya.

Pertama, efek surat Al Maidah. Sejak menjadi viral, video pidato Ahok di Kepulauan Seribu yang menafsirkan surat Al Maidah Ayat 51 itu memunculkan kontroversi dan dugaan penistaan agama Islam.

Alhasil, muncul aksi demo besar-besaran sebanyak dua kali yang menuntut Ahok diperiksa dan diadili.

"Survei LSI Denny JA menunjukan bahwa sebesar 89.30 persen responden menyatakan mereka mengetahui kasus dugaan penistaan agama yang dilakukan oleh Ahok. Hanya dibawah 10 persen saja yang mengatakan tak pernah mendengar," urai salah satu peneliti, Ardian Sopa, Jumat (18/11).

Dari jumlah tersebut, sebanyak 73.20 persen menyatakan pernyataan Ahok tersebut  sebuah kesalahan. Mayoritas publik pun, sekira 65.7 persen, menyatakan pernyataan Ahok soal Al Maidah Ayat 51 merupakan bentuk penistaan agama.

Bahkan, mayoritas publik 63.7 persen mendukung adanya proses hukum terhadap Ahok meskipun mantan Gubernur Belitung timur itu telah meminta maaf. "Ibarat pertarungan tinju, kasus surat Al Maidah merupakan 'pukulan upper cut' yang hampir saja meng-KO kan Ahok," kata Ardian.

Lalu yang kedua, tingkat kesukaan Ahok makin turun. Pada bulan Maret 2016, jumlah pendukung Ahok masih tercatat sebanyak 59,3 persen.

Angka tersebut turun teratur di bulan Juli menjadi 49,1 persen, lalu 31,4 persen pada Oktober. Memasuki November, dukungan terhadap Ahok berada di angka 24,4 persen.

Puncaknya, turun drastis menjadi 10,3 persen setelah Gubernur DKI non aktif itu ditetapkan sebagai tersangka oleh Bareskrim Polri.

"Menurunnya tingkat kesukaan atas Ahok adalah 'pukulan jab' beruntun dan berbahaya bagi tingkat keterpilihannya. Pemilih mustahil memilih orang yang tak disukainya," terang Ardian.

Kemudian, faktor yang ketiga, ada kekhawatiran Jakarta akan dilanda gejolak sosial jika Ahok kembali memimpin. Hal ini mengacu pada gelombang penolakan yang massif terhadap Ahok.

Selain itu, personaliti Ahok yang cenderung konfrontasi dengan pihak yang berseberangan, ditakutkan masyarakat akan membuat gejolak sosial. Termasuk berkembangnya sisi psikologis kondisi tidak aman jika Ahok tetap terpilih menjadi Gubernur.

"Jadi, apa gunanya sungai yang bersih, Jakarta Smart City, jika sebagian penduduknya menyimpam bom waktu selalu ingin menurunkan sang Gubernur karena karakter Gubenur yang tidak sensitif dengan emosi publik?" tutur Ardian.

Sementara itu, hal keempat dikatakan Ardian, Agus dan Anies semakin menjadi Pilihan untuk Jakarta yang stabil. Kedua pasangan ini mampu untuk menampilkan minimal citra damai, yang akan membuat jakarta lebih stabil karena tidak adanya penolakan emosional.

Termasuk, gaya dari masing-masing kandidat yang ramah, santun, lebih bisa dterima.

Sedangkan faktor terakhir, disebabkan oleh citra buruk status tersangka selama menjadi pejabat. Ini tradisi yang sudah kuat, tradisi  Good Governance. Mereka risi jika tokoh yang tersangka kok malah dikampanyekan menjadi pejabat. (rmol)
Follow
Terkoneksi dengan berbagai Sosial Media kami agar tetap terhubung dan mengetahui Informasi terkini.
Jangan Lupa Subscribe YouTube DEMOKRASI News: