logo
×

Kamis, 16 Februari 2017

Korban Aksi Cabul Wakil Kepala Sekolah Itu Kini Trauma dan Sulit Komunikasi

Korban Aksi Cabul Wakil Kepala Sekolah Itu Kini Trauma dan Sulit Komunikasi

IDNUSA - Kondisi HH, pelajar cewek SMP yang diduga korban keberingasan Wakil Kepala Sekolah (Wakasek) di Padanglawas Utara (Paluta) berinisial RSP, sangat mengkhawatirkan.

HH masih trauma berat dan sulit berkomunikasi sejak aksi pencabulan yang terjadi akhir 2016 tersebut.

Terlebih, pelaku kini melarikan diri sejak keluarga resmi melaporkan ke Polres Tapsel 15 Desember 2016.

Saat ini, Ketua Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Kabupaten Paluta juga turun tangan. Ketua LPA, Farida Chairani didampingi sekretaris Unggul Fahmi Hasibuan dan pengurus lainnya langsung mengunjungi dan melihat kondisi anak yang menjadi korban asusila itu.

Selaku lembaga yang berjuang untuk membela anak di bawah umur, Farida sangat mengutuk keras kejadian yang menimpa salah satu murid yang bersekolah di salah satu SMP di Batang Onang itu.

Apalagi kejadian itu sendiri dilakukan oleh oknum Pegawai Negeri Silil (PNS) dan menjabat sebagai wakil kepala sekolah.

“Sungguh bejat wakil kepala sekolah yang seharusnya menjadi orangtua dan contoh malah membuat aib,” katanya kepada MetroTabagsel.com, Rabu (15/2/2017).

Katanya, kondisi anak setelah ia kunjungi beberapa hari lalu masih dalam keadaan trauma dan susah diajak komunikasi.

Melalui kesempatan ini, LPA Paluta meminta dengan tegas kepada pihak kepolisian untuk segera menangkap pelaku dan memberikan hukuman yang seberat-beratnya.

Seperti diberitakan sebelumnya dari cerita HH, semua kejadian bermula pada awal September 2016 lalu.

Saat itu, pelaku mengajak korban bertamasya ke Danau Tao yang terletak di Kecamatan Batang Onang.

Mereka berangkat usai jam sekolah selesai atau sekitar pukul 13.00 WIB. Di Danau Tao ini, wakil kepala sekolah itu menyatakan cinta kepada korban. Setelah itu, mereka pulang sekira pukul 15.00 WIB.

Dan, kisah asmara terlarang itu terjadi berselang beberapa hari kemudian. Dengan alasan tambahan belajar di luar sekolah, si pelaku kembali mengajak korban ke Sipirok, Tapsel.

Mereka berangkat dari sekolah pukul 11.30 WIB. Setiba di Sipirok pelaku lantas memberikan air mineral kepada korban sembari merayu agar mau disetubuhi.

Rayuan pelaku berhasil. Ia merenggut keperawan korban di Sipirok. Usai melampiaskan nafsu, mereka pulang ke Batang Onang pada pukul 15.00 WIB.

Beberapa hari kemudian, pelaku kembali merayu dan mengajak korban bersama NF dan FS, yang juga siswi di sekolah itu.
Di tengah jalan, pelaku memberhentikan mobilnya dan singgah di gubuk kosong.

Saat tiba di gubuk itu, pelaku memberikan air mineral kepada korban, kedua teman korban juga diberikan air mineral dan dikurung di dalam mobil. Sementara pelaku menyetubuhi korban di dalam gubuk kosong itu.

Ternyata, kelakuan pelaku tidak berhenti di situ. Dengan rayuan mautnya, pada hari Minggu masih di bulan September 2016, pada pukul 10.00 WIB pelaku kembali berhasil mengajak korban bertamasya ke Kota Padangsidimpuan.

Setiba di Padangsidimpuan, pelaku membawa korban ke salah satu penginapan dan kembali menyetubuhi korban. Lagi-lagi saat melancarkan aksinya, pelaku terlebih dahulu memberikan minuman air mineral.

Beberapa hari kemudian, tepatnya Jumat, korban kembali dibawa ke penginapan yang sama di Padangsidimpuan. Kali ini korban ditemani teman sekolahnya, NF.

Saat melakukan hubungan layaknya suami istri, pelaku mengurung teman korban di dalam mobilnya. (ps)
Follow
Terkoneksi dengan berbagai Sosial Media kami agar tetap terhubung dan mengetahui Informasi terkini.
Jangan Lupa Subscribe YouTube DEMOKRASI News: