logo
×

Jumat, 10 Februari 2017

Pilih Pemimpin yang Pancasilais, Ini Penjelasan Ruki

Pilih Pemimpin yang Pancasilais, Ini Penjelasan Ruki

IDNUSA - Mantan Ketua KPK Taufiqurrahman Ruki mengatakan, dirinya tidak berambisi untuk merebut jabatan pimpinan dalam pemerintahan. Ia dan kawan kawan yang tergabung dalam Rumah Amanat Rakyat hanya ingin agar pemimpin yang terpilih nanti nya adalah pemimpin yang pancasilais.

Pemimpin Pancasilais menurut Ruki adalah peminpin yang jujur, bersih, tegas, cerdas dan beradab. Ia menggaris bawahi kata beradab bahwa banyak pemimpin yang memenuhi empat keiteria pertama , tetapi tidak beradab. "Bisa jadi dia jujur, cerdas, tegas dan bersih tapi tidak beradab. Jadi bukan yg ada comberan mulutnya", kata Ruki ketika memberi sambutan dalam Syukuran dan doa bersama diselenggarakan oleh “Paguyuban Jakarte Kite”, Kamis malam (9/2/2017) di Gedung Cawang Kencana, Jakarta.

Berbagai tokoh hadir dalam acara tersebut seperti mantan Panglima TNI Djoko Santoso, Mantan Wagub DKI Prijanto, Tokoh NU Lily Wahid, Budayawan Jaya Suprana, serta aktifis Rumah Amanat Rakyat sepeti Achmanu Arifin, B. Wiwoho, Amirullah Amin, Bambang Sumarno, Heppy Trenggono, Samuel Lengkey, Wawat Kurniawan, Khoe Seng Seng dan Ferdinand Hutahaean.

Rumah amanat Rakyat yang kini tergabung dalam "Paguyuban Jakarte Kite" merupakan komunitas yang membawa misi mencerdaskan maayarakat dalam mencari pemimpin yang pancasilais yang mengerti arah perjalanan bangsa.

Ruki menjelaskan salah satu masalah pokok bangaa kita adalah hilangnya harga diri bangsa akibat dari hilangnya kedaulatan bangsa. "Dulu saya bangga kalau pakai batik ke Singapura. Sekarang kalau ke Singapura atau Malaysia saya akan disebut Indon. Ini akibat dari kebijakan pemerintah mengirimkan TKW", ujar Ruki.

Untuk mengembalikan kedaulatan dan kemandirian, menurut Ruki bangsa Indonesia harus kompak. Untuk bisa kompak harus memiliki pemimpin yang pancasilais. "Salah satu ciri pemimpin Pancasilais adalah yang tidak menistakan agama", katanya.

Ia dan rekan-rekan menyatakan tidak berpretensi untuk menganjurkan memilih salah satu cagub. Tapi hanya memberikan indikator agar memilih pemimpin yang baik. Beberapa masukan dari masyarakat bahwa mereka tidak akan memilih pemimpin yang tidak psikopat, tukang gusur, korup, arogan, dzolim dan tukang gusur.

Ruki meraskan keprihatinan yang mendalam dengan kondisi bangsa Indonesia yang semakin gaduh dan terkotak-kotak dalam berbagai kelompok. "Negeri kita diacak-acak, 6 bulan energi kita terbuang habis hanya karena satu orang", ujarnya.

Dalam kesempatan yang sama Mantan Wagub DKI Prijanto menjelaskan bahwa di Rumah Amanat Rakyat banyak masukan dari rakyat yang datang. Mereka memberi masukan tentang pemimpin yang menjadi harapan tentang pemimpin yang diharapkan mereka.

"Misalnya kriteria cerdas. Tidak bisa disebut cerdas kalau merencanakan anggaran 90 persen tapi yang terlaksana hanya 60 persen", kata Prijanto.

Disamping kriteria tersebut, dari hasil penelitian tim Rumah Amanat Rakyat bahwa masyarakat Jakarta tidak akan menerima pemimpin yang terindikasi berpaham komunisme. (ts)
Follow
Terkoneksi dengan berbagai Sosial Media kami agar tetap terhubung dan mengetahui Informasi terkini.
Jangan Lupa Subscribe YouTube DEMOKRASI News: