logo
×

Sabtu, 08 April 2017

Kisah Menyedihkan Youssef, Kehilangan 25 Anggota Keluarganya Akibat Senjata Kimia di Suriah

Kisah Menyedihkan Youssef, Kehilangan 25 Anggota Keluarganya Akibat Senjata Kimia di Suriah

IDNUSA, SURIAH - TAK ada yang paling menyedihkan dari serangan senjata kimia yang diduga kuat dilakukan Rezzim Assad di Suriah, selain tewasnya warga tak berdoa.

Diantaranya, Youssef yang kehilangan 25 anggota keluarganya.

Termasuk istri dan dua anak kembarnya yang masih balita. Dikisahkan Youssef, dia sedang tidur ketika serangan itu bermula. Terbangun karena kesulitan bernapas, Youssef langsung melihat kondisi dua anak kembarnya yang masih berusia sembilan bulan.

Karena terlihat tidak terluka dan masih hidup, dia meminta istrinya untuk menjaga bayi mereka dan memerintahkan sang istri tidak keluar rumah. Youssef sendiri langsung keluar untuk memeriksa kondisi orang tuanya yang tinggal bersebelahan. Saat keluar rumah,Youssef melihat orang-orang kesakitan dan berjatuhan di jalan.

Youssef dan sebagian besar keluarganya tinggal di perbatasan Kota Khan Sheikhoun, Provinsi Idlib, Suriah. Pada Selasa (4/4/2017), pasukan udara memberondong kawasan dekat toko roti lokal yang berjarak hanya beberapa meter dari rumah Youssef.

Namun itu bukan sekadar serangan. Presiden Suriah Bashar al-Assad diduga menggunakan senjata kimia untuk melakukan serangan yang dilakukan saat sebagian besar penduduk masih terlelap. Youssef sampai di rumah orang tuanya dan menemukan dua saudara lelakinya sudah tewas.
Panik, dia langsung balik ke rumah untuk memeriksa istri dan anak-anaknya. ”Mulut mereka berbusa, mereka kejang-kejang. Mereka sudah tergeletak di lantai,” kata Youssef kepada CNN sambil menangis tersedu.

”Anak-anak saya. Ahmad dan Aya, dan istri saya, mereka semua terbunuh. Semua anggota keluarga saya mati,” lanjutnya lagi. Setelah itu, Youssef jatuh pingsan dan bangun beberapa jam kemudian di kasur RS.

Kesadarannya itu diikuti informasi menyanyat hati. Sebagian besar keluarganya tewas dalam serangan itu. Ada 25 orang saudara Youssef yang tewas. ”Kakak saya, anak-anak mereka, dan para sepupu. Sekitar 25 orang anggota keluarga saya terbunuh.”

Pada Rabu (5/4) warga kota memakamkan para korban. Foto Youssef memeluk mayat bayinya yang terbungkus kain putih langsung viral di media. Youssef difoto sedang berlutut di ujung pusaran makam sambil memeluk tubuh kaku bayinya. Dia kemudian menangis. ”Saya menangis, tetapi ini adalah tangisan bahagia. Anak-anak saya sekarang bersama Allah. Dan itu lebih baik daripada berada di Suriah,” ungkapnya.

Sementara itu, Mazin Yusif yang harus kehilangan 19 anggota keluarganya.

Remaja 13 tahun ini tidak akan pernah melupakan suara ledakan yang didengarnya Selasa pagi (4/4/2017). Ledakan yang diikuti kepulan asap berwarna kuning dan biru itu langsung mengubah hidupnya. Kini dia hanya tinggal berdua dengan sang nenek yang dirawat di Reyhanli State Hospital di Turki.

’’Mereka mengatakan kepada saya bahwa kakek saya, sepupu-sepupu saya, dan anak mereka meninggal dunia,’’ kata Yusif.

Yasir dan Ahmed adalah dua sepupu yang disebut menjadi korban dalam serangan gas beracun tersebut. Yasir yang masih pengantin baru meninggalkan seorang istri. Namun, Ahmed mati bersama istri dan anak kembar mereka.

Total, Yusif kehilangan 19 kerabat pada Selasa lalu. Dia sendiri nyaris kehilangan nyawa. Sebab, pagi itu dia berada sangat dekat dengan gas beracun yang tersebar bersamaan dengan suara ledakan. ’’Saya melihat bom meledak di dekat rumah kakek. Tanpa alas kaki, saya langsung berlari ke sana karena melihat kakek tersengal-sengal seperti kehabisan napas,’’ ungkapnya.

Saat berusaha menolong sang kakek, Yusif lantas pingsan. ’’Saya terbangun di atas sebuah tempat tidur. Saya telanjang. Saya tidak ingat apa-apa,’’ katanya. Beruntung, nyawa remaja 13 tahun itu masih tertolong. Bahkan, dia tidak perlu menjalani perawatan intensif karena kesehatannya pulih dengan cepat.

Kini dia tinggal menunggu neneknya, Aisha Al Tilawi, sehat kembali.

Baik Yusif maupun Al Tilawi mengatakan bahwa pesawat militer yang menjatuhkan bom berisi gas saraf itu melintasi Khan Sheikhun sekitar pukul 06.00. Saat itu sebagian warga, terutama anak-anak, masih tertidur. Itulah yang mengakibatkan jatuhnya banyak korban jiwa.

’’Tak bisa terungkapkan dengan kata-kata,’’ ujar Othman Al Khani, saksi sekaligus aktivis kemanusiaan setempat. Sebagai salah satu sukarelawan yang kali pertama mengulurkan tangannya untuk menolong para korban, dia melihat langsung kengerian Selasa pagi itu. Kepada Al Jazeera, dia mengakui bahwa menyaksikan anak-anak mengembuskan napas terakhir adalah bagian paling menyakitkan.

Hani Ahmed Al Qutaini, sukarelawan Syrian Civil Defence atau White Helmets, mengatakan tidak pernah menyaksikan kepanikan yang sama sebelumnya. Semua orang di sekitar lokasi ledakan takut dan bingung. Saat tiba di lokasi, di kanan-kiri Al Qutaini anak-anak dan orang dewasa terlihat bergelimpangan. Sebagian meninggal dunia dan sebagian lainnya sedang berjuang melawan maut. (ps)
Follow
Terkoneksi dengan berbagai Sosial Media kami agar tetap terhubung dan mengetahui Informasi terkini.
Jangan Lupa Subscribe YouTube DEMOKRASI News: