logo
×

Selasa, 11 Juli 2017

Beban Utang Tinggi, RAPBN 2018 Diminta Jangan Perbanyak Utang Baru

Beban Utang Tinggi, RAPBN 2018 Diminta Jangan Perbanyak Utang Baru

NUSANEWS, JAKARTA - Ketua Badan Anggaran (Banggar) DPR-RI, Azis Syamsuddin kembali mengingatkan pemerintah dalam Rancangan Kerja (RKP) di tahun 2018 agar hati-hati dalam menarik utang baru di tahun depan.

Hal itu disampaikan Azis saat Rapat Paripurna DPR untuk menerima laporan asumsi makro dalam Rancangan APBN Tahun Anggaran 2018. Rancangan anggaran itu nantinya akan dibacakan oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) dalam Nota Keuangan pada Agustus 2017.

“Kami meminta agar pemerintah bisa menjaga akuntabilitas pengelolaan utang serta menjaga risiko beban pembayaran bunga utang itu,” jelas Azis dalam Rapat Paripurna di Gedung DPR/MPR, Jakarta, Selasa (11/7).

Apalagi memang utang jatuh tempo pemerintah pada kisaran tahun 2018-2019 sangat besar, mencapai Rp810 triliun.

“Makanya, pemerintah harus melakukan pemilihan komposisi instrumen utang yang tepat. Selain itu, pemerintah juga harus melaksanakan transaksi hedging atau lindung nilai (agar terhindar dari volatilitas kurs),” ujar dia.

Pada 2018 nanti, kata dia, dalam RKP yang tercantum dalam RAPBN 2018, fokus pemerintah ada di beberapa sektor penting seperti pendidikan, kesehatan, infrastruktur, perumahan, hingga penanggulangan kemiskinan.

“Selain itu juga mengenai pembangunan wilayah, politik, hukum dan keamanan, serta prioritas khusus Asian Games dan Asian Paragames,” jelasnya.

DPR sendiri telah membentuak Panitia Kerja (Panja) DPR dalam pembahasan RAPBN 2017 itu. Dalam pembahasan telah disepakati empat Panja, yaitu: 1) Panja Asumsi Dasar, Kebijakan Fiskal, Pendapatan, Defisit dan Pembiayaan RAPBN tahun 2018; 2) Panja RKP dan Prioritas Anggaran Tahun 2018

Kemudian, 3) Panja Kebijakan Belanja Pemerintah Pusat RAPBN tahun 2018; dan 4) Panja Kebijakan Transfer ke Daerah dan Dana Desa RAPBN tahun 2018. Selain itu juga dibentuk Tim Perumus Laporan Panja dari masing-masing Panja dan telah melakukan pembahasan pada 3 Juli-4 Juli 2017.

Asumsi dasar dalam RAPBN 2018:

Pertumbuhan ekonomi: 5,2-5,6%, Laju inflasi: 2,5-4,5%, Nilai tukar rupiah: Rp 13.300-13.500/USD, Tingkat bunga Surat Perbendaharaan Negara (SPN) 3 bulan: 4,8-5,6%, Harga minyak mentah Indonesia (ICP): US$ 45-55 per barel, Lifting minyak bumi: 771-815 ribu barel per hari, Lifting gas bumi: 1.194-1.235 ribu barel setara minyak per hari.

Target pembangunan dalam RAPBN 2018: Pengangguran: 5,0-5,3%, Kemiskinan: 9,5-10%, Gini rasio: 0,38, Indeks Pembangunan Manusia (IPM): 71,50. (akt)
Follow
Terkoneksi dengan berbagai Sosial Media kami agar tetap terhubung dan mengetahui Informasi terkini.
Jangan Lupa Subscribe YouTube DEMOKRASI News: