logo
×

Selasa, 22 Mei 2018

BNPT Sebut ISIS Bukan Bentukan Amerika

BNPT Sebut ISIS Bukan Bentukan Amerika

NUSANEWS - Centre For Strategic And International Studied (CSIS), membuka forum diskusi dengan tema 'Dinamika Ancaman Terorisme, Ideologi Jejaring dan Strategic’ di Jakarta, Senin (21/5). Dalam diskusi ini hadir sejumlah tokoh praktisi dan pengamat, diantaranya, Direktur Penegakan Hukum Badan Nasional Penanggulangan Teroris (BNPT), Brigjen Pol Marthinus Hukom, Koordinator Eksekutif Indonesia Intellegence Institute, Ridlwan Habib, dan Researchers Directory (CSIS), Fitriani.

Dalam paparanya, Direktur Penegakan Hukum BNPT, Brigjen Pol Marthinus Hukom, menolak dengan tegas, bahwa ISIS adalah bentukan dari Amerika. Kendati diketahui, ada unggahan video viral Hillary Clinton yang menyebutkan bahwa yang diperangi Amerika adalah organisasi yang pernah dibentuk sendiri oleh Amerika. Isi kutipan Hillary dalam video itu kurang lebih berbunyi, "Jangan lupa, yang kita perangi sekarang (Al-Qaeda dan Taliban), kita yang biayai 20 tahun yang lalu. Dan kita lakukan itu karena kita sedang perangi Soviet. Mari kita buat deal dengan ISIS, juga dengan militer Pakistan. Mereka menginvasi Afganistan, dan kita tidak ingin mereka menguasai Asia Tengah. Jadi, kita harus bertindak. Waktu itu Presiden adalah Ronald Reagen, kerjasama dengan DPR, partai Demokrat yang berkata. Ini ide bagus".

Martinus mengungkapkan, kehadiran ISIS tidak lain karena mengangkat satu isu global. Isu itu adalah peperangan melawan komunisme yang berpandangan bahwa agama adalah candu. Gerakan ISIS yang memiliki paham bahwa komunis adalah ideologi yang bertentangan, maka tentunya harus dilawan. Kemudian, Amerika yang juga pada saat itu, memiliki suatu kepentingan melawan Soviet yang berpaham Komunis, mencoba untuk melakukan konsolidasi dengan ISIS untuk melawan Soviet bersama Amerika. “Dari statement ini, dapat ditarik benang merah bahwa ISIS tidak dibentuk oleh Amerika. Namun, dimanfaatkan Amerika untuk bersama melawan Soviet ketika perang dingin,” kata Martinus.

Yang terjadi sekarang, Indonesia mendapat muntahan dari berakhirnya perang dingin. Dimana, beberapa tentara ISIS adalah warga negara Indonesia. Dan saat ini, sudah balik ke Indonesia.

Dia meneruskan, eforia yang masih menggelegar di dalam darah mereka, menjadikan ini sebagai pemicu adanya pembentukan aliran-aliran yang radikal. Persisnya, dengan munculnya beberapa aliran radikal seperti Jemaah Ansorut Daulat (JAD).

SUMBER
Follow
Terkoneksi dengan berbagai Sosial Media kami agar tetap terhubung dan mengetahui Informasi terkini.
Jangan Lupa Subscribe YouTube DEMOKRASI News: