
NUSANEWS - Gempa Palu dan Donggala tak hanya memporak-porandakan berbagai bangunan. Namun juga sejumlah rumah tahanan di dua wilayah tersebut.
Direktur Jenderal Pemasyarakatan (Dirjen PAS) Sri Puguh Utami menyatakan, lebih dari seribuan narapidana melarikan diri dari lembaga permasyarakatan di Sulawesi Tengah (Sulteng).
Para tahanan itu kabur lantasan rutan hancur setelah bencana gempa bumi dan tsunami pada (28/9) lalu.
Utami mengatakan, data saat ini sekitar 1200 narapidana yang kabur itu berasal dari dua lembaga permasyarakatan yang kelebihan kapasitas.
Yakni Lapas Palu dan di Donggala. Keduanya daerah yang juga terkena bencana.
“Semuanya awalnya baik-baik saja. Tapi tidak lama setelah gempa, air keluar dari bawah halaman penjara yang menyebabkan tahanan panik dan kemudian lari ke jalan,” kata Utamai, Senin (1/10).
Akan tetapi, pihkanya meyakini kaburnya para narapidana itu bukan dilakukan atas dasar adanya kesempatan.
“Saya yakin mereka kabur karena mereka khawatir akan terkena dampak gempa dan Tsunami. Ini pasti masalah hidup dan mati bagi para tahanan,” katanya.
Satu penjara di kota Palu yang dilanda tsunami dibangun untuk menampung hanya 120 orang.
Namun, 581 tahanannya menyerbu penjaga dan melarikan diri agar bebas.
Mereka mendobrak melalui dinding yang runtuh oleh guncangan berkekuatan 7,4 SR.
Lembaga permasyarakatan di Donggala juga ada yang terbakar.
Pembakaran itu diduga dipicu oleh tahanan yang marah yang menuntut untuk melihat keluarga mereka.
“Mereka panik setelah mengetahui bahwa Donggala terkena gempa yang parah,” kata Utami.
“Saat itu petugas penjara bernegosiasi dengan tahanan yang meminta pergi untuk memeriksa keluarga mereka,”
“Tetapi beberapa tahanan tampaknya tidak cukup bersabar. Hingga akhirnya terjadilah pembakaran lapas,” katanya.
Beberapa narapidana dipenjara karena kasus korupsi dan pelanggaran narkotika.
Saat ini, kata Utami, tersisa hanya lebih dari 100 tahanan yang ada di lapas. Para penjaga juga dikabarkan kewalahan berjuang untuk memberi mereka makan.
“Penjara tidak lagi memiliki cukup makanan. Para pejabat kemudian mencoba membeli persediaan dari toko-toko di sekitar penjara yang masih terbuka,” pungkas Utami.
Untuk diketahui, sampai saat ini, dari data yang dirilis Aksi Cepat Tanggap (ACT), korban tewas akibat gempa bumi Donggala dan Palu sudah mencapai 1.203 orang.
Menurut laporan situasi terkini ACT, korban paling banyak yang meninggal berasal dari Kelurahan Petobo, Palu, Sulawesi Tengah, yakni 700 orang.
Pengumuman itu berdasarkan data pada Senin (1/10), pukul 05.00 WIB. Rumah Sakit Undata Palu juga menampung korban meninggal terbanyak yakni 201 orang.
ACT juga mencatat 540 orang terluka. Korban luka tersebar di berbagai titik, tetapi yang paling besar dirawat di RS Wirabuana sebanyak 184 orang.
ACT juga mencatat sebanyak 46 orang hilang dengan jumlah pengungsi di Kota Palu diperkirakan mencapai 16.732 jiwa dan tersebar di 123 titik menurut data per 30
September.
SUMBER

