logo
×

Rabu, 03 Oktober 2018

Ancaman Gempa Sunda Megathrust 9 SR Itu Ada, Jakarta Terancam

Ancaman Gempa Sunda Megathrust 9 SR Itu Ada, Jakarta Terancam

NUSANEWS - Rentetan gempa di Tanah Air terus terjadi. Belum hilang duka gempa Lombok, kini beralih ke Sulawesi Tengah.

Palu, Donggala dan Sigi diguncang gempa disusul tsunami.

Akibat bencana yang terjadi pada Jumat (28/9/2018) jelang Maghrib itu, ribuan warga tercatat menjadi korban meninggal.

Sedangkan puluhan ribu lainnya dipaksa menjadi pengungsi ke wilayah lain yang dianggap aman. Makassar, Sulawesi Selatan, salah satunya.

Data terbaru Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat, korban tewas sampai dengan Selasa (2/10/2018) pukul 17.00 WIB, sudah mencapai setidaknya 1.347 orang.

Data tersebut didapat dari Palu, Donggala dan Kabupaten Sigi, Sulawesi Selatan.

Angka itu sudah termasuk 34 pelajar yang ditemukan meninggal dunia di bawah reruntuhan gereja di Kecamatan Sigi Biromaru, Kabupaten Sigi, pada Selasa (1/10).

Sementara, 133 orang lainnya sampai saat ini belum ditemukan dan masih dianggap hilang.

Selain itu, diyakini juga masih banyak korban lainya tertimbun di bawah reruntuhan bangunan dan belum terevakuasi.

Bencana itu kembali membuka ingatan pada ancaman gempa yang disebut-sebut mengancam penduduk di Pulau Jawa.

Khususnya di Ibu Kota Negara, DKI Jakarta.

‘Ancaman’ itu bernama Sunda Megathrust yang disebut-sebut memiliki kekuatan guncangan hingga 9 SR.

Hal itu diakui sendiri oleh Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika, Dwikorita Karnawati kepada BBC Indonesia, Jumat (2/3).

Akan tetapi, kekuatan gempa Suna Megathrust itu sampai kini masih menjadi perdebatan.

Para pakar menyebut, potensi tersebut berasal dari zona kegempaan atau seismic gap yang ada di sekitar Jakarta.

“Belum ada kepastian kekuatannya. Kekuatannya masih perdebatan di antara para pakar. Diperkirakan antara 8,1 SR hingga 9 SR,” katanya.

Menurut Dwikorita, megathrust atau patahan lempeng naik menjadi ancaman besar bagi ibu kota negara dilanda gempa.

Ia lantas mencontohkan dua gempa terakhir yang pernah menguncang Jakarta pada Januari 2018 lalu.

Gempa berkekuatan 6,1 SR yang berpusat di Samudera Hindia, 61 kilometer dari Lebak, Banten itu Gempa itu bahkan sempat menimbulkan kepanikan warga Jakarta.

Menurut Dwikorita, sumber gempa besar yang mengancam Jakarta berasal dari patahan lempeng yang ada di Selat Sunda.

Yakni antara lempeng Indo-Australia dengan lempeng Eurasia.

“Posisinya tepat di bawah pulau Jawa dan Sumatera. Sekitar 300 kilometer dari Jakarta,” beber mantan rektor Universitas Gadjah Mada ini.


Perhitungan besarnya gempa hingga lebih dari 8 SR, lanjut dia, berdasarkan hitungan geometri patahan yang akan terjadi.

“Itu perkiraan atau estimasi,” ujarnya.

Seluruh Indonesia Berpotensi Bempa

Secara umum, Dwikorita menegaskan bahwa seluruh wilayah Indonesia berada di atas lempeng tektonik yang punya potensi menghasilkan gempa.

Dengan begitu, katanya, gempa akan terus terjadi dan kondisi itu pula yang seharusnya disadari semua pihak.

Akan tetapi, soal waktu kejadian, tekan Dwikorita, tidak akan bisa diprediksi oleh siapapun.

“Karena tidak ada yang bisa memastikan kapan gempa terjadi atau kapan lempeng bergeser,” jelasnya.

Sementara, pakar gempa Jaya Murjaya menjelaskan, gempa berasal dari zona kegempaan kosong atau seismic gap.

Pulau Jawa, lanjut Jaya, sudah beberapa kali dilanda gempa berkekuatan lebih dari 7 SR.

Karena itu, ia memastikan bahwa semua wilayah tersebut berpotensi terjadi gempa yang besar.

“Jika disimulasikan untuk wilayah Jakarta, dengan kekuatan 8,7 SR akan berdampak pada guncangan dengan skala intensitas VI sampai VII MMI,” terang Jaya.

Data dari Pusat Studi Gempa Nasional menyebutkan, jumlah sesar aktif di Indonesia juga bertambah.

Yakni dari 81 sesar pada 2010 menjadi 295 sesar aktif pada 2017.

Gempa Tak Dapat Dicegah, Antisipasi Paling Penting

Sifat gempa yang tak dapat diprediksi kapan waktu kejadian, serta tak dapat ditolak dan dicegah, maka yang terpenting adalah antisipasi jika gempa benar terjadi.

Hal pertama adalah soal struktur bangunan.


Menurut Dwikorita, perlu pemeriksaan apakah semua gedung di Jakarta sudah memenuhi standar antigempa.

Mulai dari building code, standar ketahanan gempa, hingga SNI (Standar Nasional Indonesia).

Selain itu, tak kalah penting, adalah soal edukasi masyarakat bagaimana menghadapi gempa, apa yang harus dilakukan ketika gempa terjadi, dan sebagainya.

“Tujuannya adalah meminimalisir korban jiwa. Karena biasanya banyak korban jatuh disebabkan keruntuhan bangunan,” kata dia.

Terkait edukasi kegempaan, mantan Wagub DKI Jakarta Sandiaga Uno pernah menyatakan berencana akan membangun taman hiburan dan edukasi terkait gempa.

Selain itu, ia juga pernah berjanji akan meningkatkan kesiapsiagaan warga.

Di sisi lain, Kepala Badan Pelayanan Terpadu Satu Pintu DKI Jakarta Edy Junaidi memastikan setiap gedung bertingkat di Jakarta sudah memenuhi syarat SNI tahan gempa sebagai syarat perizinan.

Bahkan, ia menjamin gedung-gedung di Ibu Kota itu tahan gempa.

“Hingga kekuatan 8 SR,” kata Edy.

Menurut Edy, syarat gedung bertingkat tahan gempa itu sudah lama diterapkan di Jakarta.

Sehingga, kata dia, soal ketahanan gedung bertingkat terhadap gempa seharusnya sudah bukan menjadi isu.

“Para konsultan tidak mungkin membangun gedung tanpa standar antigempa. Mulai dari bahan bangunan, struktur, dan sebagainya,” kata Edy.

Sayangnya, kata Edy, syarat tahan gempa itu hanya berlaku bagi bangunan tinggi.

Sedangkan untuk rumah pribadi atau pemukiman, tidak berlaku.

Kendati demikian, Edy mengaku tidak khawatir soal rumah di Jakarta.


“Saya tanya, kapan pernah terjadi gempa sampai rumah rubuh di Jakarta?” kata dia.

“Untuk rumah-rumah saya belum terlalu khawatir,” lanjutnya.

Menerapkan syarat tahan gempa untuk Izin Mendirikan Bangunan (IMB) rumah pribadi, kata Edy, adalah sesuatu yang sulit dilakukan.

“Rumah saya saja tidak standar gempa. Apa harus saya bongkar,” pungkasnya.



SUMBER
Follow
Terkoneksi dengan berbagai Sosial Media kami agar tetap terhubung dan mengetahui Informasi terkini.
Jangan Lupa Subscribe YouTube DEMOKRASI News: