logo
×

Senin, 01 Oktober 2018

Gempa Palu Seret Kampung Petobo 2 Kilometer sampai Hilang Ditelan Bumi

Gempa Palu Seret Kampung Petobo 2 Kilometer sampai Hilang Ditelan Bumi

NUSANEWS - Gempa Palu dan Donggala membuat porak-poranda banyak wilayah. Dua wilayah yang terdampak cukup parah adalah Kelurahan Petobo, Kota Palu, dan Desa Jonooge, Kecamatan Biromaru, Kabupaten Sigi.

Dua wilayah tersebut, selain terdampak gempa, juga diterjang tsunami yang cukup dahsyat.

Muhammad Sutomo, salah seorang warga Masamba mengaku nekad mendatangi Petobo karena ingin mencari sanak saudaranya yang hilang.


Di lokasi itu, kondisi sangat memprihatinkan.

Ia menggambarkan, lumpur seperti dimuntahkan dari dalam perut bumi dan menenggelamkan bangunan rumah dan jalan, serta semua yang ada di atas tanah.

Bahkan, kampung Petobo itu sampai hanyut terseret sampai dengan dua kilometer jauhnya.

“Daratan seperti hanyut dan tergeser dua kilo dari posisi semula. Rumah tenggelam,” jelasnya.

Senada, demikian juga Arman (45), salah satu pengungsi yang ditemui JawaPos.com di rumah dinas Gubernur Sulteng, Jalan M. Yamin, Minggu (30/9).

Dia mengatakan kampung itu sudah lenyap. Gempa bumi yang mengguncang Palu membuat kontur tanah bergeser hingga menimbulkan longsor.

“Itu kasihan satu kampung habis ditimbun sama longsor pas gempa sama tsunami itu datang. Jalan lubang, putus semua, rumah-rumah penduduk sampai tidak kelihatan karena sudah tenggelam ditutup tanah langsung. Hilang itu kampung,” ujar Arman.

Sesuai dengan arah yang ditunjukkan oleh Arman, kampung itu berada di Kelurahan Petobo, Kecamatan Palu Selatan.

Arman sendiri sempat mendatangi lokasi kampung yang sudah kehilangan peradaban tersebut.

Menurut Arman, sebagian besar bangunan baik permanen maupun semipermanen tertimbun di bawah tanah. Jalan aspal yang membentang menuju pusat kampung itu terbelah. Aksesnya terputus.

“Kemungkinan Pak, di sana pas sebelum air datang, gempa dulu karena agak lama gempanya. Langsung terbelah jalan, sampai masuk di kampung baru langsung tertimbun, seperti diisap, ditarik masuk ke dalam tanah. Kayak digulung begitu baru ditutup tanah,” paparnya.

Di sana, ia bahkan sempat meminta sedikit keterangan dari warga asli setempat terkait terimbunnya lokasi tersebut.

Amran juga sempat memperlihatkan sejumlah dokumentasi foto kondisi kampung yang disebut dihuni ratusan jiwa penduduk itu kepada JawaPos.com.

Di foto yang diperlihatkan, puing-puing bangunan rumah nyaris tak terlihat akibat tertimbun tanah.

Di atas timbunan terpampang pemandangan layaknya pematang sawah yang ditumbuhi rerumputan dan ladang tandus.

Sayangnya, Amran enggan memberikan gambar itu kepada awak media. Alasannya dia tidak ingin menambah beban kekhawatiran dan membuat suasana di Palu semakin mencekam.

“Saya kasih lihat saja karena kami ini sebelum ke sini (rumah dinas gubernur) singgah dulu ke sana, lihat betul itu kenyataannya di sana. Ternyata memang parah sekali,” ucapnya.

Sejauh ini sama sekali belum ada bala bantuan di kampung tersebut. Diperkirakan banyak korban yang masih tertimbun di bawah puing-puing bangunan yang roboh.

Sementara itu, di sekitar rumah dinas gubernur Sulteng, sejumlah korban masih bertahan di tenda-tenda darurat pengungsian.

Rumah dinas tersebut berada di pusat kota Palu. Dengan perlengkapan seadanya, mereka bertahan di halaman rumah dinas.

Beberapa di antaranya memilih bertahan di tenda pengungsian dan lahan kosong di sekitar area.


SUMBER
Follow
Terkoneksi dengan berbagai Sosial Media kami agar tetap terhubung dan mengetahui Informasi terkini.
Jangan Lupa Subscribe YouTube DEMOKRASI News: