
NUSANEWS - Korban gempa Palu dan Donggala menjarah toko dan menguras habis berbagai barang serta benda yang bisa diambil.
Salah satu jenis barang yang menjadi target jarahan masyarakat adalah makanan dan minuman, khususnya di gerai waralaba.
Menanggapi hal itu, Kapolri Jendral Tito Karnavian mengaku enggan menyebut tindakan masyarakat itu sebagai sebuah tindakan penjarahan.
“Bukan penjarahan, mereka itu lapar,” tegasnya di Kantor Kementerian Politik Hukum dan Keamanan, Jakarta, Senin (1/10).
Dia menilai, kekerasan kepada masyarakat yang mengambil barang tanpa izin di toko bukan solusi mengingat situasi di Palu yang luluh lantah akibat gempa dan tsunami.
Namun pihaknya tetap mengimbau agar masyarakat di sana tetap mengindahkan hukum.
“Tapi persoalan utamanya adalah mereka panik karena takut kekurangan logistik makanan dan BBM,” tutur Tito.
Kendati demikian, pihaknya tetap meningkatkan pengamanan guna mencegah pengambilan barang di toko-toko yang ditinggal pemiliknya.
Sementara itu, upaya terus dilakukan pemerintah untuk mencukupi pasokan makanan dan bahan bakar minyak (BBM) di wilayah tersebut.
“BBM sudah dikirim mulai dari hari ini. Dirut Pertamina sudah di situ, Menteri BUMN sudah di sana,” katanya.
“Kemudian pesawat sudah dipakai untuk mengangkut minyak-minyak, sudah berangkat,” beber Tito.
Kapal pengangkut listrik 400 MW pun dikerahkan dan kini sudah berangkat menuju ke Palu.
“Kalau kapal ini sudah sampai di Palu, maka listrik tidak akan ada masalah karena cukup. Di sana dibutuhkan 110 megawatt. dan ini 400 megawatt, cukup,” jelas mantan Kepala Densus 88 Antiteror yang sempat bertugas di Palu itu.
Perbaikan sejumlah gardu listrik yang mati juga terus dilakukan.
“Ini harus harus diperbaiki. Kemudian sementara ini dari Dirut PLN mengirim genset sebanyak-banyaknya untuk menghidupkan (listrik) secara lokal,” tutup Tito.
Selain itu, pihaknya memastikan juga terus mengirim anggotanya ke Palu dan Donggala dan sekitarnya.
“Dari Polri sendiri kita rencanakan akan mengirim antara 1.500 sampe 2.000, yang sekarang baru masuk itu lebih kurang 400 Brimob,” ucapnya.
Ribuan pasukan itu kata dia sangat dibutuhkan untuk melakukan pengamanan, membuka jalur yang longsor, dan membantu penanganan para korban.
“Saya masih menganggap perlu (dikirimkan pasukan). Karena satu, untuk pengamanan,” imbuhnya.
Tito menerangkan, Palu merupakan daerah tertutup. Akses jalan menuju Palu biasanya ditempuh melalui jalur darat.
Yakni bisa melalui Donggala, Poso, Mamuju, Tolitoli, Parigi Moutong.
Namun mayoritas jalan tersebut terutup material longsor. Sementara jika melalui udara, hanya pesawat dengan jarak landasan 2000 meter yang bisa mendarat.
Sedangkan pelabuhan masih belum kondusif pasca diterjang tsunami. Namun pemerintah berupaya untuk memulihkannya.
“Kita harapkan pelabuhan sudah bisa normal secepat mungkin, listrik bisa normal,” katanya.
“Kalau itu semua normal, maka logistik akan masuk, masyarakat akan tenang,” tutur Tito.
Sementara, Kepala Divisi Humas Mabes Polri Irjen Setyo Wasisto menambahkan, pasukan yang dikirim nantinya berasal dari Kepolisian Daerah (Polda) yang berdekatan dengan Kota Palu.
Ada pula dari Mabes Polri, terkhusus para anggota Brigade Mobile (Brimob).
“(Mereka dikirim) untuk penanganan dan kemanusiaan, rehabilitasi kemudian identifikasi korban dari tim DVI,” kata Setyo.
Untuk diketahui, sampai saat ini, dari data yang dirilis Aksi Cepat Tanggap (ACT), korban tewas akibat gempa bumi Donggala dan Palu sudah mencapai 1.203 orang.
Menurut laporan situasi terkini ACT, korban paling banyak yang meninggal berasal dari Kelurahan Petobo, Palu, Sulawesi Tengah, yakni 700 orang.
Pengumuman itu berdasarkan data pada Senin (1/10), pukul 05.00 WIB. Rumah Sakit Undata Palu juga menampung korban meninggal terbanyak yakni 201 orang.
ACT juga mencatat 540 orang terluka. Korban luka tersebar di berbagai titik, tetapi yang paling besar dirawat di RS Wirabuana sebanyak 184 orang.
ACT juga mencatat sebanyak 46 orang hilang dengan jumlah pengungsi di Kota Palu diperkirakan mencapai 16.732 jiwa dan tersebar di 123 titik menurut data per 30 September.
SUMBER

