
NUSANEWS - Pengamat komunikasi politik Effendi Gazali memberikan komentar terkait temuan Kartu Tanda Penduduk Elektronik (e-KTP) yang tercecer di semak belukar di Pondok Kopi, Jakarta Timur.
Hal tersebut ia sampaiakan saat menjadi narasumber acara Indonesia Lawyer Club (ILC), di tvOne, Selasa (11/12/2018) malam.
Menurut pengamatannya, Effendi menganggap banyak hal yang menarik dari kasus e-KTP yang tercecer tersebut.
"Sebetulnya banyak ya, cerita-cerita menarik yang saya dapat malam ini, sebagian besar saya yang butuh pencerahan dari Datuk Karni Ilyas ini. Ceritanya banyak yang lucu-lucu ini," ucap Effendi.
"Yang pertama misalnya, kalau kita mulai dari Pak Dirjen (Dukcapil) dengan segala niat baiknya bersama Pak Mendagri tadi bilang bahwa ini adalah ujian berat bagi Dukcapil."
"Saya pikir-pikir nggak berat banget. Maksud saya, apakah ini ujian berat atau tidak, enggak berat-berat banget kalau jelas instruksinya. Semua yang tidak pas ataupun bermasalah dengan KTP elektronik ini, gunting (e-KTP nya). Kalau sudah digunting, enggak ada ujian berat," jelasnya.
Hal lain yang disoroti Effendi adalah dikait-kaitkannya kasus e-KTP yang tercecer ini dengan pemilu.
"Yang kedua, yang agak menarik adalah justru karena ini tahun politik maka peristiwa seperti ini yang berulang-ulang menimbulkan banyak pertanyaan," tuturnya.
"Saya rasa ini bukan persoalan Pak Jokowi dengan timnya, juga bukan persoalan Pak Prabowo dengan timnya."
"Ini pasti persoalan kita semua, karena kita ingin pemilu yang berintegritas, itu yang paling penting."
Effendi kemudian memaparkan kasus e-KTP tercecer yang sudah terjadi beberapa kali.
Satu di antaranya adalah kasus e-KTP tercecer pada Mei 2018.
Ribuan e-KTP juga tercecer di jalanan di Kabupaten Bogor, Jawa Barat.
Saat itu, ribuan e-KTP invalid tersebut terjatuh dari mobil ketika dibawa dari gudang penyimpanan sementara di Pasar Minggu ke Gudang Kemendagri di Semplak, Bogor.
Effendi kemudian membandingkan dengan kasus e-KTP yang tercecer di Pondok Kopi.
"Itu enggak bisa dibilang tercecer (penemuan e-KTP di Pondok Kopi). Itu 2910 (e-KTP) ditemukan di semak belukar. Itu bagiamana caranya tercecer ya?" tanya Effendi sambil mengarahkan badannya pada Dirjen Dukcapil Kemendagri, Zudan Arif Fakrulloh.
Effendi kemudian menjelaskan alasan orang membuang e-KTP di sembarang tempat.
"Mungkin alasan yang pertama semua orang bisa bilang iseng. Ya namanya orang iseng, dibawa ke suatu tempat, taruh," jelasnya.
"Yang kedua, ini menarik ini, jangan-jangan ada orang, melihat sejarah e-KTP ini adalah peristiwa yang dimulai oleh teman-teman di DPR. Lalu belakangan ini, isu-isu ini enggak muncul, kalah dengan isu-isu lain. Jadi jangan-jangan, setiap isu e-KTP ini mandek di KPK, ada penemuan-penemuan ini."
"Menarik juga ya, jadi ditemukan lagi, oh supaya ingat, bahwa kasusnya ini belum selesai ini," jelas Effendi merujuk pada kasus korupsi e-KTP yang menyandung mantan Ketua DPR Setya Novanto.
Terakhir, Effendi sempat menyinggung kasus e-KTP yang menimpa seorang warga.
"Dari yang saya dengar, Bu Dewi itu tidak pernah meminta untuk ada perubahan atau apapun terkait dengan e-KTP miliknya, tetapi dicetak kembali, ini yang menarik," tutur Effendi.
"Bu Dewi tadi tidak menyatakan bahwa dia meminta kepada kelurahan ada perubahan sehingga bisa dicetak dua KTP elektronik miliknya."
"Motivasi ini kemudian menjadi menarik ketika malam ini muncul istilah 'DPT siluman'," imbuh Effendi.
Kemudian, Effendi menyebutkan data-data jumlah pemilih pada pemilu 2019.
"Pada awalnya DP 4 dari Dukcapil itu, ada data 196 juta kurang lebih pemilih pada pemilu 2019 yaitu 189 juta ditambah 7 juta yang akan punya e-KTP 2019. Lalu KPU keluar dengan angka 185 juta yang langsung diprotes teman-teman PKS dengan mengatakan ada 25 juta data yang ganda, misalnya," kata Effendi.
"Yang menarik adalah dari angka 31 juta yang diserahkan Dukcapil kepada KPU untuk diverifikasi, itu ternyata ada 4 juta yang tidak ada di DP 4 nya Dukcapil. Nah kan menarik tuh."
"Ini nggak ada urusannya sama Pak Jokowi, Pak Prabowo, kita semua ingin pemilu yang berintegritas. Karena sampai saat ini, berapapun selisihnya nanti, 4 juta ataukah 8 juta, ini adalah sebuah rumah ketidakpastian bagi big data," jelasnya.
Terakhir, Effendi berharap kasus e-KTP tercecer ini merupakan kasus yang terakhir
Lihat vidoe selengkapnya berikut ini:
Penemuan e-KTP
Dikutip dari Kompas.com, sebuah karung berisi ribuan KTP Elektronik ditemukan di area persawahan yang berada di Jalan Karya Bakti III, Kelurahan Pondok Kopi, Kecamatan Duren Sawit, Jakarta Timur, Sabtu (08/12/18) siang.
Ribuan e-KTP tersebut milik warga Kelurahan Pondok Kelapa, Kecamatan Duren Sawit, Jakart Timur.
"Ada ribuan e-KTP aktif. Saya ngitungin aja udah capek, pada bosen. Ribuan itu, jelas di atas seribu lah," ujar Ketua RW 11 Kelurahan Pondok Kopi, Ipit.
Ipit menjelaskan, penemuan ribuan e-KTP tersebut bermula dari laporan bahwa ada anak-anak yang memainkan e-KTP di sebuah areal persawahan.
Setelah nya, ia datang dan benar menemukan e-KTP di dalam sebuah akrung putih, dan sebagian lainnya tercecer di sawah.
![]() |
| Penemuan e-KTP tercecer |
Selanjutnya sekarung e-KTP tersebut diamankan di Mapolsek Duren Sawit.
Kepala Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil DKI Jakarta, Dhany Sukma, mengatakan, E-KTP yang ditemukan di Pondok Kopi merupakan cetakan lama.
E-KTP tersebut merupakan cetakan 2011-2013.
Dhani tidak menjawab dengan jelas alasan mengapa E-KTP cetakan lama itu belum diserahkan ke warga.
Sementara itu, Kepala Pusat Penerangan Kementerian Dalam Negeri Bahtiar mengatakan, pihaknya tengah melakukan investigasi terkait penemuan sekarung e-KTP di RT 003 RW 011, Kelurahan Pondok Kopi, Duren Sawit, Jakarta Timur.
"Tim Ditjen Dukcapil Kemendagri sedang ke lapangan melakukan investigasi," ujar Bahtiar Minggu (9/12/2018).
Namun, Bahtiar tidak menjawab ketika ditanyakan apakah e-KTP tersebut sebelumnya telah diserahkan oleh pihak Dukcapil Kemendagri ke Kelurahan Pondok Kelapa.
SUMBER


