Singapura Kalut, PM Lee: Kepanikan Warga Lebih Berbahaya daripada Virus Corona
logo

Singapura Kalut, PM Lee: Kepanikan Warga Lebih Berbahaya daripada Virus Corona

Singapura Kalut, PM Lee: Kepanikan Warga Lebih Berbahaya daripada Virus Corona

DEMOKRASI.CO.ID - Singapura kalut. Setelah pemerintah meningkatkan status waspada wabah Novel Coronavirus dari kuning ke oranye, kepanikan berlebih menghinggapi warga di negeri singa ini.

Warga Singapura berbondong-bondong pergi ke pusat perbelanjaan. Banyak uang mereka dihabiskan untuk membeli stok kebutuhan hidup di masa-masa krisis corona.

Pasar pun kaget. Jumlah permintaan naik secara drastis. Bank juga ikut terkena imbasnya.

Secara masal, warga Singapura menarik uang dalam jumlah berlebih sebagai persiapan di masa krisis. Situasi ini kerap kali disebut rush money. Alhasil, pemerintah kewalahan.

Melihat respons dari warganya, Perdana Menteri Singapura Lee Hsien Loong mulai turun tangan. Dalam video yang diunggah oleh Kantor Perdana Menteri pada Sabtu (8/2), PM Lee mengimbau agar warganya bisa tenang namun tetap waspada.

"Kita harus berani bertindak dengan sewajarnya, termasuk mengambil langkah-langkah tegas. Kita pernah mengatasi wabah SARS dahulu. Kini, kita lebih bersedia menangani virus baru ini," ujar PM Lee.

Lebih lanjut, PM Lee juga meminta agar seluruh warga Singapura untuk terus mengikuti perkembangan dan saran dari Kementerian Kesehatan alih-alih merasa panik secara berlebihan.

"Teruskan kehidupan anda seperti biasa. Pemerintah akan melipatgandakan usaha untuk mengekang ancaman ini dengan segala upaya,"

Pada dasarnya, ketika psikologis lemah, justru penyakit akan lebih mudah masuk. Oleh karena itu, Lee mengatakan kepanikan justru bisa lebih berbahaya dibanding virus itu sendiri.

"Jangan sebarkan berita palsu. Jangan membeli kebutuhan pokkok dan makanan dengan berlebihan," imbaunya.

Di akhir video, Lee juga mengungkapkan rasa terima kasihnya bagi para pekerja medis yang bersedia berkorban untuk merawat para pasien penderita corona yang saat ini sudah mencapai 40 orang di Singapura. (*)
loading...