logo
×

Minggu, 09 Februari 2020

Turis Sepi Gegara Corona, Media Asing Sebut Bali Kota Hantu

Turis Sepi Gegara Corona, Media Asing Sebut Bali Kota Hantu

DEMOKRASI.CO.ID - Larangan terbang yang diberlakukan pemerintah Indonesia dari dan ke China menyusul merebaknya wabah Virus Corona menampar sektor pariwisata. Salah satunya di Bali.

Bahkan media asal Inggris, Daily Mail, menjuluki Bali sebagai kota hantu dalam headline di salah satu artikel milik mereka. Hal ini untuk menggambarkan betapa terimbasnya pariwisata di Pulau Dewata tersebut.

Daily Mail, dalam headline-nya, menyebut Bali berubah dari kiblatnya para turis hingga menjadi kota hantu. Menurut Daily Mail, hal tersebut gara-gara dilarang penerbangan dari dan ke China.

"Bali berubah dari Makkah-nya para turis menjadi kota hantu setelah turis China dilarang karena menyebarnya Virus Corona," demikian bunyi headline Daily Mail, Sabtu (8/2/2020).

Media itu menyebut Indonesia melarang penerbangan dari dan ke China pada Rabu kemarin. Buntutnya, sekitar 5.000 turis China terjebak di pulau tersebut.

Pun Daily Mail memajang foto Bandara I Ngurah Rai, Denpasar, yang terlihat sepi. Daily Mail juga menyebut jalanan yang biasanya ramai oleh turis China, kini sepi.

Daily Mail juga menyebut bisnis-bisnis di Bali berupaya menyintas dengan memotong jumlah karyawan. Pun disebutkan pusat-pusat perbelanjaan yang dibiarkan kosong di sana.

"Bali sangat terpukul oleh Virus Corona karena jalan-jalan yang dulunya ramai dipenuhi turis Tiongkok kini sepi menyusul larangan penerbangan," tulis Daily Mail.

Daily Mail bahkan mengutip status seorang warganet yang diduga dari Australia. Dia mengaku khawatir Bali akan kehilangan banyak bisnis lokal jika larangan untuk turis China tidak dicabut.

"Virus Corona telah memukul keras ekonomi di Bali. Kami menetap di Anvaya tercinta di Kuta. Okupansinya kini hanya 50 persen dan staff telah diistirahatkan," tulis warganet melalui Facebook seperti dikutip Daily Mail.

Bahkan, tulis Daily Mail, sejumlah warga lokal khawatir imbas finansial ini bakal menghancurkan ekonomi seperti yang terjadi pada tragedi Bom Bali pada 2002.

"Salah satu teman kami di Bali mempekerjakan 20 pengemudi yang mengantarkan turis China dalam tur mereka dan mereka tidak punya pekerjaan," kata seorang turis Australia seperti dikutip Daily Mail.

"Penduduk setempat memiliki kenangan segar tentang bagaimana rasanya ketika wisatawan berhenti datang setelah pemboman," lanjutnya.(*)
loading...