Notification

×

Iklan

Iklan

Lihat Anak Buah Tidur dalam Rapat, Kapolda Jatim Seharusnya Meniru Cara Prabowo

Senin, 25 Mei 2020 | 18:59 WIB Last Updated 2020-05-25T12:16:41Z

DEMOKRASI.CO.ID - Indonesia Police Watch (IPW) mengingatkan Kapolda Jatim Irjen Muhammad Fadil Imran jangan lebay atau berlebihan dalam menindak Kapolsek Gubeng, Kompol Naufil Hartono yang tertidur saat rapat penanganan Covid-19 di Surabaya, Jumat (22/5) lalu.

Menurut Neta, pencopotan yang dari jabatannya sudah merupakan hukuman yang sangat berat, sehingga tidak perlu lagi diperiksa Bidang Profesi dan Pengamanan (Propam) Polda Jatim dan dipermalukan sebagai pembunuhan karakternya.

IPW melihat, di sepanjang pandemi Covid 19 dan Ramadan serta menjelang Lebaran, para Kapolsek-lah yang paling berat tugasnya.

"Mereka menjadi ujung tombak Polri," tegas Neta dalam siaran persnya, Senin (25/5).

Neta menjelaskan setidaknya ada empat kerja berat para kapolsek yang harus dihargai Kapolda Jatim.

Pertama, para Kapolsek harus pontang-panting melakukan deteksi dini dan antisipasi maksimal agar penyebaran Covid 19 bisa dicegah dan diputus mata rantai penyebarannya.

Kedua, para kapolsek yang bersiaga menjaga wilayahnya dengan maksimal pasca-dibebaskannya ribuan napi oleh Menkumham Yasonna Laoly.

Ketiga, para kapolsek bersiaga menjaga situasi kamtibmas di wilayahnya saat Ramadan dan menjelang Lebaran, terutama dengan banyaknya pemutusan hubungan kerja (PHK) dan industri yang tutup.

Keempat, para kapolsek yang menjadi ujung tombak untuk melakukan pagar betis agar arus mudik bisa dicegah sehingga penyebaran Covid-19 tidak meluas.

Menurutnya, keempat tugas berat itu dilakukan para lapolsek di tengah mereka harus melakukan ibadah puasa dan kekhawatiran terhadap dirinya terkena virus Covid-19.

"Dalam situasi seperti ini tentunya sangat manusiawi, jika ia tertidur saat rapat di ruangan AC, apalagi selama ini ia bertugas di lapangan yang bercuaca sangat panas," jelas Neta.

IPW menilai adalah hal yang wajar jika Kapolda Jatim Irjen Fadil yang tengah menyampaikan sambutan dalam rapat itu marah pada sang Kapolsek.

Apalagi rapat itu dihadiri Pangdam V Brawijaya Mayjen TNI Widodo Iryansah dan Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini.

Namun, kata Neta, hendaknya sebagai pimpinan, kapolda juga harus mau menyadari terhadap situasi yang ada dan kerja keras yang dilakukan para kapolsek sejak munculnya pandemi Covid-19, pelepasan ribuan napi, Ramadam dan Lebaran.

"Sebagai perwira Polri yang baru pertama kali menjabat sebagai kapolda, Irjen Fadil hendaknya mau memahami tugas berat para kapolsek di lapangan, sehingga tidak mengedepankan sikap arogansi dan mentang mentang menjadi pimpinan," papar Neta.

IPW berharap kapolda Jatim bisa belajar dari sikap yang ditunjukkan Menteri Pertahanan (Menhan) Prabowo Subianto.

Mantan Danjen Kopassus itu tampak santai mengerjai asisten pribadinya yang ketiduran di sela-sela rapat yang dipimpinnya.

Melihat asistennya tertidur Prabowo lantas duduk di sampingnya. Tak berselang lama, asistennya itu kemudian terbangun dan tampak kaget saat melihat Prabowo duduk persis di sampingnya.

"Bukannya marah, Prabowo hanya tertawa," tegasnya.

Dia menambahkan tidak ada arogansi yang muncul karena sebagai pimpinan Prabowo menyadari bahwa tugas yang diemban asistennya itu cukup berat, sehingga sangat manusiawi yang bersangkutan tertidur.

"Untuk itu IPW berharap tindakan yang dilakukan kapolda Jatim terhadap kapolsek Gubeng jangan lebay. Pencopotan jabatan terhadap dirinya sudah sangat berat," kata Neta.

Dia menegaskan bahwa bagaimanapun tindakan tegas terhadap anak buah harus tetap terukur.

"Dan sebagai atasan harus mau mengukur serta menghargai anak buahnya yang sudah bekerja keras untuk menjadikan Polri yang promoter di tengah pademi Covid-19," pungkas Neta. [jpnn]
loading...