Notification

×

Iklan

Iklan

Aparat Diduga Pukul Pedemo dan Wartawan Demo Tolak TKA China

Rabu, 01 Juli 2020 | 15:14 WIB Last Updated 2020-07-01T08:14:03Z

DEMOKRASI.CO.ID - Demo menolak kedatangan tenaga kerja asing (TKA) asal China ke Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) berlangsung ricuh di Kendari, Selasa (30/6) malam. Satu wartawan lokal Erik (Zonasultra.com) mendapatkan tindakan kekerasan diduga dari aparat keamanan.

"Saya dapat rotan di tangan dan paha. Ada bekasnya di paha saya," kata Erik saat dihubungi, Rabu (1/7).

Erik mengaku kericuhan terjadi di Desa Konda I Kecamatan Konda Kabupaten Konawe Selatan sekira pukul 22.00 WITA.

Desa ini merupakan salah satu jalan alternatif yang dilalui rombongan TKA China. Mahasiswa memadati pintu keluar di desa ini selain di pintu masuk Bandara Haluoleo Kendari di Desa Ambaipua Kecamatan Ranomeeto Kabupaten Konawe Selatan.

Saat demo menunjukkan gelagat kericuhan, Erik bersama sejumlah wartawan lainnya berlindung di belakang rumah warga di Desa Konda I.

"Karena massa sudah mulai melempar," katanya.

Saat berlindung dan mengetik berita kericuhan, ia kemudian didatangi beberapa orang oknum polisi. Satu di antaranya langsung menghantamkan rotan ke tangan Erik hingga telepon pintarnya terjatuh di tanah.

"Dia juga hantam pahaku hingga berbekas. Saya tidak tahu saya kira siapa, ternyata polisi. Nanti teman-teman teriak wartawan baru dia berhenti memukul," katanya.

Selain satu wartawan yang dirotan, salah satu massa yang diketahui bernama Abriawan (27) mengalami luka bocor di kepala usai dihantam pentungan.

"Teman kami kepalanya bocor. Dipukul pakai pentungan," kata Ketua Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Kendari Zulkarnain saat dihubungi.

Sementara Kepala Bidang Humas Polda Sultra AKBP AKBP Ferry Walintukan menyebut belum mendapatkan informasi soal aparat keamanan yang terluka termasuk adanya wartawan yang dirotan.

"Oh nanti saya klarifikasi di Kapolres Kendari. Wartawannya di mana? Ya wartawan itu, kalian itu tidak mungkin kena pukul kalau tidak ada di depannya ini (aparat). Tapi saya nggak tahu kalau ada kena pukul karena saya tidak ada di lokasi," kata Ferry saat dihubungi CNNIndonesia.com.

Sebelumnya, TKA China gelombang kedua tiba di Bandar Udara (Bandara) Haluoleo Kendari, Selasa (30/6) sekira pukul 20.40 WITa.

Berdasarkan informasi yang diperoleh, TKA China ini tiba di Bandara Haluoleo Kendari menggunakan pesawat carteran Lion Air. Belum diketahui berapa jumlah TKA China yang datang ini. Namun diperkirakan sekitar seratusan lebih.

Para TKA China ini berangkat dari Ghuangzhou China lebih dulu transit di Malaysia. Kemudian dari Malaysia menggunakan pesawat Malaysia Airlines dan mendarat di Bandara Sam Ratulangi Manado. Di Manado berganti pesawat carteran Lion Air menuju Bandara Haluoleo Kendari.

Namun kedatangan TKA dari negeri tirai bambu ini luput dari pantauan awak media. Sebab, pihak TNI Angkatan Udara melarang wartawan masuk di Bandara Haluoleo Kendari. Berbeda dengan kedatangan 156 TKA pada gelombang pertama, jurnalis bisa masuk area Bandara Haluoleo setelah mengikuti rombongan Ketua DPRD Sultra Abdurrahman Shaleh.

Pada gelombang kedua ini, Ketua DPRD Sultra tidak lagi melakukan inspeksi mendadak (sidak). Wartawan pun tak diberi akses oleh TNI untuk masuk liputan. Komandan Pangkalan Udara (Lanud) Haluoleo Kendari Kolonel Pnb Muzafar menyatakan untuk sementara Bandara Haluoleo ditutup.

"Maaf mas sementara kami tutup dulu ksatrian kami.. mohon pengertiannya yah Mas," kata Danlanud lewat pesan Whatsapp kepada CNNIndonesia.com.

Meski demikian, ia tidak menjelaskan alasan penutupan akses ke Bandara untuk jurnalis jelang kedatangan TKA China.

"Bukan juga sih (terkait TKA China). Kita lagi ada latihan di Ksatrian," tuturnya. (*)
loading...