logo
×

Selasa, 27 Oktober 2020

Kritisi Film Pendek NU yang Dianggap Adu Domba Muslim, Guru Besar UIN: Lebih Banyak Mudharatnya

Kritisi Film Pendek NU yang Dianggap Adu Domba Muslim, Guru Besar UIN: Lebih Banyak Mudharatnya

 


DEMOKRASI.CO.ID - Baru-baru ini film pendek yang diunggah di kanal YouTube NU Channel (bukan akun resmi PBNU) dengan judul “My Flag Merah Putih vs Radikalisme” menuai kontroversi.

Padahal maksud dari film pendek ini bertujuan untuk melawan radikalisme yang ada di tanah air, namun sayangnya adegannya justru menampilkan narasi adu domba sesama muslim.

Film pendek yang diunggah pada Jumat, 23 Oktober 2020 dalam rangka memperingati Hari Santri Nasional itu dikritik karena menarasikan orang bercadar adalah salah.

Khususnya dalam adegan yang memperlihatkan duel antarwanita berjilbab tanpa cadar vs dengan bercadar.

Dalam adegan tersebut, muslimah yang berjilbab tanpa cadar menang duel melawan yang bercadar dan kemudian setelah menang ia membuka paksa cadar muslimah yang kalah duel tersebut.

Tentunya kolom komentar unggahan film pendek tersebut dibanjiri oleh kritik-kritik pedas dari umat Islam di Indonesia. Sampai-sampai karena jumlah dislike yang terlampau banyak, pemilik channel mematikan kolom like dan dislike-nya.

“Kenapa di menit ke-3 gitu ya, berantam niqabnya (cadar) dilepas apa gitu cara mencintai NKRI?? Aku yang awam ini bingung film yang dibuat ormas terbesar tapi ada adegan seperti itu,” tulis Muhajir Zulkifli.

“Mencintai NKRI itu dengan berkarya, tapi karya yang positif bukan karya yg mengadu domba kaum muslimin. Betapa banyak muslimah yang bercadar yang berkarya untuk negeri ini. Mereka dokter, guru dll. Sedangkan kalian…. Akting = bohong!,” tulis Amatullah Sumarni.

Menanggapi video kontroversi tersebut, dikutip oleh Pikiranrakyat-Bekasi.com melalui kanal YouTube Harsubeno Point, guru besar Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya Ahmad Zahro buka suara.

Menurutnya, harusnya tidak ada film seperti itu karena walaupun ada manfaatnya, mudharatnya akan jauh lebih besar.

Dirinya juga menjelaskan penggunaan bendera tauhid yang digunakan dalam film tersebut yang terkesan seolah-olah berada dalam pihak yang salah.

“Kalaupun ada bendera selain merah putih, paling hanya 1 persen, ya bukan dilawan dengan cara seperti di film itu, tapi dinasehati,” tuturnya.

“Tapi kalau bendera dengan kalimat tauhid, bendera organisasi kan semua punya, ada bendera NU, Muhammadiyah, ada bendera yang lain-lain semuanya punya, dan gak usah dicela gak usah dimasalahkan,” ucapnya menambahkan.

Dirinya pun menyesalkan mengapa film tersebut terkesan adanya arogansi kekuasaan. Menurutnya film pendek itu tidak baik dari sudut pandang ukhuwah Islamiyah.

“Jadi terus terang adanya film itu tidak baik dari sudut pandang ukhuwah Islamiyah,” ucapnya.

Lalu dirinya pun menekankan bahwa itu bukan merupakan sikap dan pemikiran dari mayoritas orang-orang NU.

“Itu kemungkinan ya oknum yang ingin mengekspresikan ketidaksukaannya kepada kelompok tertentu yang dianggap menyimpang atau sesat,” ucapnya.

Menurutnya, penayangan film pendek tersebut terasa sekali kesan seperti adanya keinginan untuk menyudutkan atau menyisihkan atau mengalahkan kelompok tertentu.

Dirinya pun buka suara terkait mengapa NU saat ini sudah jarang menyindir orang dengan cara guyon-guyon pintar seperti NU zaman dulu.

“Seperti yang kita ketahui semua ormas atau orpol apa pun pasti ada dicoraki atau diwarnai oleh tokoh-tokoh dominannya, jadi faktor tokoh dominan tentu menjadi faktor penting untuk perubahan itu, sekarang karena ada UU ITE tentu kita agak susah untuk mengatakan eksplisit tuh seperti zaman dulu, bukan takut sebenarnya,” tutupnya.

Hingga berita ini diturunkan, Pikiranrakyat-Bekasi.com masih meminta klarifikasi terkait film pendek tersebut.

Artikel Asli

Komentar Pembaca

loading...