logo
×

Senin, 24 Januari 2022

Gawat! Hacker Pemula Bisa Bobol Lembaga Pemerintah, Anggota Komisi I DPR, 'Perlindungan Data Pribadi Lebih Serius Dibanding IKN'

Gawat! Hacker Pemula Bisa Bobol Lembaga Pemerintah, Anggota Komisi I DPR, 'Perlindungan Data Pribadi Lebih Serius Dibanding IKN'

DEMOKRASI.CO.ID - Banyaknya kebocoran data yang terjadi di Indonesia dan dialami oleh sekian lembaga pemerintah seperti KPU, BPJS Kesehatan, Kementerian Kesehatan, Polri dan yang terbaru peretasan yang dialami Bank Indonesia.

Anggota Komisi I DPR, Sukamta mengatakan, kondisi keamanan siber di Indonesia sudah pada tingkatan sangat mengkhawatirkan.

Bahkan hacker pemula bisa bobol lembaga pemerintah, ini sudah dalam kategori darurat, perlu penanganan segera dan harus komprehesif.

Mengingat sudah banyak ahli keamanan siber di Indonesia selama ini memberikan kritik dan masukan bahwa infrastruktur keamanan siber di lembaga pemerintah buruk.

"Jika bicara infrastruktur berarti ini menyangkut regulasi, perangkat keras, perangkat lunak, serta ketersediaan SDM," ujar Sukamta, Senin (24/1/2022).

Wakil Ketua Fraksi PKS ini juga menyesalkan lambatnya respon pemerintah dalam mengatasi kebocoran data, dimana hacker pemula bisa bobol lembaga pemerintah.

Mengingat hingga saat ini banyak di antara kasus kebocoran data seakan dibiarkan tanpa jelas upaya tindak lanjutnya. 

"Pemerintah ini mungkin kebingungan mau mengambil langkah hukum terkait kebocoran data, karena belum ada UU Perlindungan Data Pribadi. Kita di DPR sudah mendesak berulang kali untuk segera diselesaikan RUU PDP, sudah 5 masa sidang RUU ini dibahas, tapi pihak pemerintah masih tarik ulur dalam beberapa pasal," katanya.

Padahal kalau pemerintah punya mau, lanjutnya, RUU IKN bisa diselesaikan dalam waktu kurang dari 40 hari.

"Kalau ditinjau dari tingkat kemendesakannya, persoalan perlindungan data pribadi ini lebih serius dibanding IKN. Sudah ratusan juta data warga yang bocor tanpa jelas juntrungnya," ujarnya.

Anggota DPR asal Yogyakarta ini berharap meski belum ada UU PDP, pemerintah harus segera benahi infrastuktur keamana sibernya, mengingat masyarakat sudah mempercayakan data pribadinya di server-server lembaga pemerintah.

"Di luar soal regulasi, pemerintah bisa segera benahi sistem proteksi, pembaharuan aplikasi, enkripsi data, backup data hingga tata kelola SDM pengelola keamanan siber," bebernya.  

Sukamta yakin BSSN sudah punya catatan apa saja yang harus segera diatasi. Banyak ahli IT dan keamanan siber di Indonesia yang juga bisa diajak berkolaborasi. 

"Semoga kasus kebocoran data BI ini yang terakhir. Jangan sampai masyarakat dipaksa gunakan aplikasi milik pemerintah tanpa penjelasan dan jaminan keamanan," tutupnya. [poskota]

Follow
Terkoneksi dengan berbagai Sosial Media kami agar tetap terhubung dan mengetahui Informasi terkini.

Komentar Pembaca