logo
×

Senin, 04 April 2022

Gerakan Penundaan Pemilu Diorkestra Orang Dekat Istana yang Mabok Kekuasaan

Gerakan Penundaan Pemilu Diorkestra Orang Dekat Istana yang Mabok Kekuasaan

DEMOKRASI.CO.ID - Wacana penundaan Pemilihan Umum (Pemiu) 2024 dan atau perpanjangan masa jabatan presiden, digaungkan oleh orang-orang Istana yang haus akan kekuasaan.

Begitu pandangan mantan Menteri Keuangan, Fuad Bawazier, kepada Kantor Berita Politik RMOL, Senin (4/4), menyikapi wacana penundaan pemilu yang belakang santer didengungkan sejumlah elite politik dan pemerintah.

Menurutnya, orang yang mengusulkan penundaan pemlu merupakan orang nekat. Untuk itu Fuad meminta masyarakat untuk tidak lengah dengan isu penundaan pemilu dan perpanjangan masa jabatan presiden ini.

“Semua gerakan penundaan pemilu itu sepertinya diorkestra oleh orang-orang dekat Istana, dekat dengan pusat kekuasaan, khususnya mereka yang ingin tetap berkuasa. Orang orang ini memang nekat dan sedang mabok kekuasaan. Karena itu kita tidak boleh lengah sedikitpun,” tegas Fuad.

Fuad menambahkan, kondisi ekonomi yang serbasulit saat ini, seharusnya menjadi fokus pemerintah dalam menjalankan amanahnya agar Indonesia menjadi lebih baik di kemudian hari.

"Kini rakyat sedang menghadapi kesulitan hidup. Fokus saja pada penyelesaian migor, Pertalite, dan harga-harga di sekitar puasa dan Lebaran. Tidak usah ditambahi dengan agenda-agenda kerakusan berkuasa,” katanya.

Ia juga mendesak pemerintah untuk menutup wacana penundaan Pemilu 2024 agar tidak memantik amarah rakyat dengan wacana yang tidak bertanggung jawab tersebut.

"Jadi sebaiknya ditutup saja agenda yang memakan energi bangsa tadi. Rakyat sudah di puncak kesabarannya. Tapi bukankah masih ada satu lagi opsi yang belum dicoba, yaitu dekrit presiden? Saya kira Presiden Jokowi tidak akan tergoda dengan ide dekrit presiden itu. Terlalu berisiko!” tutupnya. [rmol]

Jangan Lupa Subscribe YouTube DEMOKRASI News:
Follow
Terkoneksi dengan berbagai Sosial Media kami agar tetap terhubung dan mengetahui Informasi terkini.