logo
×

Rabu, 28 Oktober 2015

Inilah Kisah Dibalik Jeruji Penjara Terkejam di Brasil

Inilah Kisah Dibalik Jeruji Penjara Terkejam di Brasil
Suasana di Penjara Pernambuco Brasil. Di penjara ini tindakan kekerasan umum ditemukan seperti halnya menjadikan hukum rimba sebagai panglimanya 
NBCIndonesia.com - Human Right Watch (HRW) baru-baru ini merilis laporan mereka tentang kondisi memperihatinkan di Penjara Brasil. Mereka menyebut penjara yang berada di timur laut negara bagian Pernambuco, Brasil ini sebagai salah satu contoh bencana bagi hak asasi manusia.

Bagaimana tidak, para tahanan menghuni sel yang penuh sesak, kotor dan sangat tidak layak. Apalagi beberapa diantaranya merupakan tersangka pelaku kejahatan yang dipenjara tanpa melalui proses peradilan yang semestinya semisal belum sampai tahap vonis.

Menurut laporan mereka, penjara ini sekarang dihuni oleh tahanan yang jumlahnya tiga kali lebih banyak dari kapasitas resminya. Ini memicu berbagai macam peristiwa kekerasan, tindakan tak manusia serta tindakan-tindakan berbahaya lainnya.


Ini benar-benar dirasakan oleh seorang peneliti dari HRW yang berkunjung ke penjara itu.

Ia mendapati salah satu ruangan sel tanpa tempat tidur. Di dalamnya ada sekitar 37 orang yang tidur dengan kasur tipis. Di ruangan yang lain, mereka menemukan ada enam ranjang di dalamnya namun diisi oleh 60 orang tahanan. Ada satu orang tahanan yang tidur sambil duduk. Ia harus mengikat dirinya sendiri ke teralis pintu supaya badannya tidak merosot atau jatuh ke orang lain yang juga menghuni ruangan berbau keringat dan kotoran ini.


Di penjara ini, HRW juga menemukan sistem sanitasi dan ventilasi yang sangat buruk. Kemudian tidak didukung pula oleh perawatan medis yang memadai, sehingga penyakit mudah menyebar dari satu tahanan ke tahanan lainnya. Tahanan yang sakit pun, jarang sekali dibawa ke rumah sakit lantaran mereka juga kekurangan petugas pengawal.

Satu pegawai di penjara ini, berbanding dengan 30 tahanan. Ini menjadi perbandingan paling buruk di penjara di Brasil dimana rata-rata perbandingannya yakni satu berbanding delapan. Ini pun sebenarnya lebih besar dari rasio ideal sebagaimana yang disampaikan Kementerian Kehakiman Brasil yang menyebut rasio idealnya yakni satu berbanding lima.


Kelebihan kapasitas dan kurangnya pegawai ini menjadi salah satu faktor terbesar kenapa penjara ini pun tak bisa melakukan pengawasan secara maksimal kepada para tahanan.

Hasilnya, di penjara ini diberlakukan sistem penjagaan mandiri. Petugas akan memberikan wewenangn kepada salah satu tahanan di setiap ruangan. Orang yang menjadi 'bos' inilah yang harus bertanggung jawab terhadap keamanan ruangannya masing-masing. Mereka ini, bertugas mengamankan sel dari dalam, sementara petugas mempertahankan pengawasan dari luar sel.

Parahnya, sistem ini tak selalu berjalan sesuai rencana. Para bos yang ditunjuk justru seolah menjadi raja-raja kecil di tiap ruangan.

Mereka kedapatan menjadi penjual narkoba di tahanan, memeras sesama tahanan, bahkan mereka mengenakan tarif untuk setiap tempat tidur.

Apa yang terjadi jika ada tahanan yang melawan atau tak mau membayar? Siap-siap saja mereka dianiaya oleh kaki tangan para bos ini.


Menurut narasumber HRW, para petugas juga ternyata menikmati hasil dari kerja para bos ini. Mereka mendapatkan bagian pendapatan yang diperoleh.

Tak hanya kekerasan secara fisik, penjara ini juga sangat berisiko terhadap kekerasan seksual. Dari dua tahanan yang diwawancarai HRW, terungkap bahwa salah satunya pernah diperkosa dan kasusnya diselidiki komisi hak asasi manusia. Sementara satu tahanan lainnya, kasusnya tak pernah diselidiki.

Atas berbagai temuan itu, HRW mendesak supaya dilakukan tindakan pembenahan secepatnya. Mereka harus bisa memastikan bahwa penjara itu sudah dikelola sesuai dengan hukum internasional dan hukum yang berlaku di Brasil.

HRW juga mendesak pembenahan masalah sanitasi, dukungan kesehatan dan segera mencari solusi untuk menutupi kekurangan pegawai di tahanan tersebut.(tnj)
Follow
Terkoneksi dengan berbagai Sosial Media kami agar tetap terhubung dan mengetahui Informasi terkini.
Jangan Lupa Subscribe YouTube DEMOKRASI News: