
Nusanews.com - Dua orang demonstran tewas dalam penembakan polisi di tengah aksi para pendukung oposisi di Kenya. Para demonstran memblokir jalan-jalan utama serta membakar ban saat Day of Rage atau tuntutan merombak komisi pemilihan negara itu.
Sebagaimana dilansir Aljazeera (Selasa, 7/6), tindakan tegas terpaksa dilakukan polisi karena dipicu bentrokan dan penjarahan supermarket di pusat kota Kisumu dan distrik Kondele yang merupakan rumah tinggal bagi para pekerja Kenya..
Polisi melepaskan tembakan sebelum menggunakan gas air mata dan meriam air. Atas insiden ini, sedikitnya enam demonstran yang terkena luka tembakan dilarikan ke rumah sakit pusat di kota Kisumu.
Sebuah luka tembak terlihat pada sesosok mayat yang diletakkan di luar kamar jenazah rumah sakit. Saksi mengatakan, korban juga salah satu demonstran yang terkena tembakan polisi.
Setidaknya dalam protes serupa, tiga orang dilaporkan tewas di Kenya bagian barat pada bulan Mei lalu. Dua di antaranya tewas ketika polisi anti huru-hara melepaskan tembakan di kota Siaya. Sedangkan korban tewas ketiga menurut keterangan polisi terjadi ketika demonstran terjatuh saat melarikan diri dari tembakan gas air mata di kota Kisumu.
Mayoritas demonstran merupakan pendukung pemimpin oposisi Raila Odinga. Mereka telah melakukan pemblokiran jalan-jalan di wilayah Migori pada Senin pagi dan nampak sengaja menimbulkan potensi chaos dengan pasukan keamanan pemerintah.
Sementara di wilayah lain, pemimpin oposisi sekaligus mantan Perdana Menteri Kenya, Raila Odinga justru memimpin aksi damai di ibukota Nairobi.
"Ini tidak adil. Kita tidak bisa memiliki polisi yang menembaki orang setiap kali mereka melaksanakan hak mereka. Orang-orang ini telah ditembak mati saat melakukan protes," kritik seorang demonstran, tukas Michael Omondi seperti dikutip dari AFP. (rm)

