NUSANEWS, JAKARTA - Wakil Ketua DPR RI, Fahri Hamzah mengaku tidak terkejut dengan penetapan Ketua DPR Setya Novanto sebagai tersangka oleh Komisi Pemberantasan Korupsi atau KPK, dalam kasus dugaan korupsi e-KTP. Menurut dia penetapan tersangka terhadap Novanto sudah direncanakan oleh lembaga antirasuah tersebut.
“Ya, kan memang sudah direncanakan. Dari awal kan bahwa (Novanto) mau ditersangkakan. Itu sudah direncanakan dari awal untuk menghibur publik, baguslah,” ujar Fahri, Selasa (18/7).
Namun demikian, Fahri mempertanyakan dua alat bukti yang dijadikan dasar KPK untuk menetapkan Novanto sebagai tersangka, sebagaimana disampaikan ketua KPK Agus Rahardjo, semalam.
“KPK hanya menyebutkan ada dua alat bukti, dan tidak menjelaskan apa saja alat bukti tersebut. Saya juga tanya (pada Novanto) pak apa tambahan (alat bukti)? nggak ada (kata Novanto). Trus apa gitu alat buktinya,” katanya.
Politisi dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS) ini mengatakan, jika alat bukti tersebut berupa uang hasil dugaan korupsi, KPK ditantangnya untuk membuktikan bagaimana cara uang tersebut bisa masuk ke kantong Novanto. Jika melalui transfer antar rekening, alat bukti tersebut harus dibuktikan.
“Saya sampai sekarang bingung bagaimana nenteng uang setengah triliun. Yang Rp 10 juta, Rp 20 juta saja operasi tangkap tangan (OTT). Masa ini setengah triliun tidak OTT?” sindirnya.
Fahri menilai, langkah KPK ini serupa dengan penetapan Budi Gunawan yang menjadi calon Kapolri sebagai tersangka pada 2015 lalu. Pada akhirnya, penetapan tersangka tersebut dibatalkan pengadilan.
“Ini sama saja dengan KPK menetapkan Budi Gunawan tersangka waktu itu. Karena beritanya sudah ramai ke mana-mana, Budi Gunawan rekening gendut, begitu kan. Alat bukti enggak ada, lalu dengan megang selembar kertas diumumkan itu (penetapan tersangka),” kata dia.
Fahri Hamzah juga menyindir pernyataan KPK yang mengatakan keputusan-keputusan yang dibuat KPK diambil untuk memuaskan ralyat. Menurut Fahri, rakyat akan terus menagih nama-nama yang disebutkan KPK saat kasus KTP-el mencuat.
“Rakyat akan nagih terus, karena nama yang disebut kan banyak, ada 3 gubernur, ada sekian menteri, ada itu segala macem,” pungkasnya. (akt)


