logo
×

Selasa, 27 Maret 2018

Ditanya Kenapa Tak Kirim Bantuan Senjata ke Suriah, Begini Jawaban ACT

Ditanya Kenapa Tak Kirim Bantuan Senjata ke Suriah, Begini Jawaban ACT

NUSANEWS - Komunitas Masyarakat Relawan Indonesia (MRI) yang dikelola oleh lembaga kemanusiaan Aksi Cepat Tanggap (ACT) mengadakan “Ngobrol Kemanusiaan” atau disingkat Ngokem. Acara ini digelar atas kerjasama dengan elemen masyarakat dan komunitas Bekasi pada Ahad (25/03) di Bangi Kopi di Kalimalang, Bekasi.

Panitia menjelaskan, acara ini dalam rangka menyiapkan konser kemanusiaan bertema “Senandung Cinta Untuk Ghouta”. Konser ini rencananya diselenggarakan di Bekasi pada April mendatang.

Dalam Ngokem yang dihadiri sedikitnya 18 perwakilan komunitas Bekasi itu, seorang peserta bertanya, kenapa ACT tidak mengirim senjata saja untuk pejuang di Suriah. Menurut penanya, memberi bantuan makanan tidak dapat menyelesaikan masalah.

“Mengapa tidak mengirim senjata yang memang dibutuhkan dan untuk membela diri di Suriah. Ibaratnya, jika memang hanya mengirim bantuan beras atau makanan, seperti memberi pangan kepada ayam untuk kemudian disembelih,” ungkap salah satu perwakilan komunitas yang enggan disebutkan namanya, Ahad (25/03/2018).

Atas pertanyaan itu, Iqbal Setyarso selaku Vice President of Communication Department ACT menjawab bahwa kalaupun ACT memberikan bantuan seperti itu, pihak pengungsi atau penerima di Suriah pun menolak. Karena, lanjutnya, bantuan ini membahayakan ACT atau lembaga kemanusiaan dari Indonesia.

“Untuk senjata, mereka yang tinggal di sana lebih mengerti dari orang luar, jadi kita tidak mencampuri urusan mereka,” ungkapnya.

“Filosofinya, orang yang memegang senjata akan setara jika dilawan dengan senjata, tapi ketika lembaga kemanusiaan masuk membawa beras kemudian meninggal di tangan para tentara rezim atau kroconya, maka dunia akan gempar,” lanjutnya.

Selain itu, pangan memang sangat dibutuhkan oleh warga yang masih di dalam Ghouta dan pengungsi yang sudah keluar. Selain itu, ACT, sebut Iqbal juga membantu melobi kepada pemerintah atau pihak terkait untuk segera menyelesaikan dan menghentikan peperangan ini.

Syuhelmaidi Syukur, selaku Senior Vice President of Group of Distribution Program yang juga hadir pun menambahkan, bahwa dalam beberapa bulan terakhir ini, ada relawan yang mendapat karunia Syahid (kama nashbuhu) ketika memberi bantuan ke Ghouta.

“Ada fotografer dari relawan di sana -bukan relawan Indonesia- yang meninggal terkena serangab rezim. Beberapa bunker dan pos relawan yang di dirikan pun sempat hilang rata oleh tanah karena serangan rezim dan Rusia,” ungkap Syuhelmaidi.

Ia pun tak memungkiri bahwa perjuangan relawan di tempat konflik seperti Suriah, Palestina, Rohingnya dan beberapa tempat lainnya cukup beresiko, bahkan kadang harus mempertaruhkan nyawa. Namun, semua itu dijalani dalam rangka memantaskan diri membersamai mujahidin dan pejuang Islam yang tengah berperang untuk membela tanah air dan agamanya.

SUMBER
Follow
Terkoneksi dengan berbagai Sosial Media kami agar tetap terhubung dan mengetahui Informasi terkini.
Jangan Lupa Subscribe YouTube DEMOKRASI News: