
NUSANEWS - Memasuki hari keempat usai gempa mengguncang Palu, Donggala dan Kabupaten Sigi, yang disertai tsunami, masalah baru bermunculan.
Bencana dahsyat itu sendiri mengakibatkan jatuhnya korban jiwa hingga mencapai ribuan.
Sedangkan puluhan ribu lainnya terpaksa mengungsi ke kota lain yang dianggap aman.
Nah, ribuan jenasah korban gempa dan tsunami itu sendiri banyak diantaranya masih belum sepenuhnya terevakuasi.
Akibatnya, bau menyenget mulai menyeruak di Palu, Donggala dan Kabupaten Sigi.
Akibat kondisi yang masih kurang memadai itu, banyak jenasah diantaranya hanya diletakkan di tempat umum.
Terkait hal itu, Menteri Kesehatan Nila F Moeloek mengingatkan adanya bahaya dari proses pembusukan jenasah tersebut.
Pihaknya menyarankan, sebaiknya jenasah para korban yang berhasil ditemukan segera dikumpulkan (dipusatkan) di rumah sakit untuk nantinya dikuburkan secara massal.
Tujuannya, untuk mengurangi risiko pencemaran akibat timbulnya penyakit infeksi yang bisa ditimbulkan dari pembusukan jenazah para korban gempa dan tsunami.
Ia juga menekankan, tindakan tersebut harus dilakukan secepatnya.
“Agar cepat dikuburkan massal. Dengan maksud agar (pasien/masyarakat) tidak tercemar penyakit yang bisa menyebabkan infeksi (akibat pembusukan jenazah),” terangnya dalam keterangan tertulis, Selasa (2/10).
Kepala Pusat Krisis Kesehatan Kemenkes dokter Achmad Yurianto menjelaskan, jenazah mengalami pembusukan sejak satu jam pertama kematiannya.
Proses pembusukan tercepat ada di bagian otak dan saluran pencernaan.
“Karena di dalam usus manusia tidak steril sehingga banyak mikroorganisme yang membentuk gas sehingga jenazah akan membengkak dan mengelembung,” terangnya.
Risiko kesehatan yang bisa ditimbulkan dari pembusukan jenazah, kata Achmad, adalah keberadaan kuman yang dicemarkan melalui cairan maupun gas.
Sehingga, dapat menimbulkan penyakit.
“Cairan pembusukan jenazah ini bisa mengalir ke mana-mana. Ini sangat berbahaya bagi pasien lain, oleh karena itu seharusnya segera dimakamkan,” katanya.
“Ini bisa menjadi lebih berbahaya pada korban yang mengalami luka terbuka,” paparnya.
Saat ini, proses pemakaman massal sudah dimulai dengan menetapkan lokasi penggalian dan mulai penguburan secara bertahap, karena jenasah masih terus berdatangan.
Jenasah yang datang di rumah sakit terlebih dulu diidentifikasi oleh pihak kepolisian untuk mengentahui identitas korban.
Jika pada korban tidak terdapat kartu tanda pengenal, maka jenazah akan difoto kemudian dilabeli.
Foto korban ini untuk bisa diketahui identitasnya bila di kemudian hari ada keluarga atau kerabat yang mengenali.
Sementara pelabelan digunakan untuk data pada lokasi pemakaman massal.
Data terbaru BNPB mencatat, korban tewas sampai dengan Selasa (2/10/2018) pukul 17.00 WIB, sudah mencapai setidaknya 1.347 orang.
Data tersebut didapat dari Palu, Donggala dan Kabupaten Sigi, Sulawesi Selatan.
Angka itu sudah termasuk 34 pelajar yang ditemukan meninggal dunia di bawah reruntuhan gereja di Kecamatan Sigi Biromaru, Kabupaten Sigi, pada Selasa (1/10).
Sementara, 133 orang lainnya sampai saat ini belum ditemukan dan masih dianggap hilang.
Selain itu, diyakini juga masih banyak korban lainya tertimbun di bawah reruntuhan bangunan dan belum terevakuasi.
SUMBER

