
DEMOKRASI.CO.ID - Peneliti Forum Masyarakat Peduli Parlemen Indonesia (Formappi) Lucius Karus, mencibir sikap DPR belakangan. Dia bilang wakil rakyat terkesan bermain balap liar di akhir masa jabatan.
“DPR ugal-ugalan dan karena itu biasanya lah balapan liar itu selalu tidak peduli dengan siapapun yang ada di sekitarnya itu yang terjadi hari ini kita menyaksikan proses politik yang ada di DPR terpisah dari masyarakat,” kata Lucius di Jakarta, Ahad, (22/9).
Menurut dia, sikap ugal-ugalan ini sudah seperti siklus. Pada 2014, mereka juga tak peduli dengan program legislasi nasional dan mengesahkan revisi UU MD3, sebelum program nasional disepakati.
“Jadi kebiasaan ngebut dipunyai oleh DPR ini sejak mereka selesai dilantik sehingga ada perbedaan memang hitung-hitungan berapa undang-undang yang sudah disahkan sampai saat ini,” kata dia.
Lucius bilang, DPR periode ini sangat fokus pada kekuasaan, bukan bagaimana memberi yang terbaik untuk rakyat. Padahal mereka dipilih rakyat yang menitipkan aspirasi. Terbukti soal UU MD3 saja sampai tiga kali direvisi, selain 2014, yakni pada 2017 dan 2019.
Dari sisi kualitas, Lucius menyebut wakil rakyat periode ini yang terburuk. Termasuk jika dilihat dari segi kuantitas. Sebab dari 189 target prolegnas, hanya 29 yang disahkan.
“Yang juga sangat rendah dibandingkan dengan DPR sebelumnya hampir 70 RUU yang bisa disahkan dalam 5 tahun,” kata Lucius. [iis]

