Awas Jangan Terjebak, Game Online Remi Indonesia Dinilai Nistakan Agama
logo

Awas Jangan Terjebak, Game Online Remi Indonesia Dinilai Nistakan Agama

Awas Jangan Terjebak, Game Online Remi Indonesia Dinilai Nistakan Agama

DEMOKRASI.CO.ID - Game Online android Remi Indonesia yang di produksi oleh Developer ParagiSoft dinilai menistakan agama.

Pasalnya dalam game tersebut terdapat pilihan menu yang tidak pantas dan dinilai menghina agama islam.

Menurut pantauan wartanusa.id (6/11/2019) berdasarkan halaman resmi akun develover ParagiSoft di PlayStore, aplikasi ini dirilis tanggal 19 April 2015, terakhir di update tanggal 25 Desember 2018 dan sampai saat ini telah di download lebih dari 1 juta pengguna.

Ketua Badan Komunikasi Pemuda Remaja Masjid Indonesia (BKPRMI) Kota Langsa, Tengku Zubir, menanggapi konten game tersebut kepada wartanusa.id, dia mengutuk keras game yang telah menghina agama islam serta Nabi Muhammad SAW.

Ketua BKPRMI Langsa Tengku Zubir

“Kita sangat paham tujuan akhir mereka dalam pembuatan itu, mereka yang ingin memecah belah umat dan bertujuan menciptakan pemikiran sekuler terhadap generasi Islam”, ucapnya

Pihaknya berharap kepada orang tua untuk menjaga anak-anaknya semaksimal mungkin demi terjaganya generasi Islam kedepan.

Seraya menambahkan “meminta kepada pihak terkait supaya bisa memblok situs-situs game yang mengandung unsur penghinaan dan pelecehan karena apabila itu tidak dijalankan siap-siap umat akan kacau bahkan kemungkinan besar akan terjadi perpecahan”. Tutup Zubir.

Pernyataan keras disampaikan Ketua FPI Kota Langsa, “Itu bukan lagi penistaan, Itu jelas penghinaan dan konten tersebut jelas ingin memancing kemarahan dan mereka ingin membuat rusuh umat Islam.

Lanjutnya, “maka dalam hal ini kalau pemerintah ingin kebaikan, pemerintah wajib menutup konten tersebut atau sangat ditakutkan ada pihak-pihak yang tidak menerima dan akan melakukan tindakan yang tidak diinginkan.” Kecam Tengku Faisal.

Ketua FPI Kota Langsa, Tengku Faisal

Dia meminta pemerintah segera menutup konten tersebut dan berharap memproses hukum pelakunya.

Salah seorang praktisi server yang biasa menangani penyimpanan data sebuah aplikasi hingga website atau biasa disebut Linux SysAdmin dalam bidang pekerjaannya, mengatakan, kalau data yang ditampilkan berasal dari database, yang dihack biasanya server database.

“Keamanan database di server biasa dibatasi aksesnya, dipasangi firewall dan jangan aktifkan remote access demi keamanan data. Kalau aplikasinya pakai database, ada upload file, ya butuh server database + file dan biasanya yang dihack server databasenya.” Terang sumber yang tidak diinginkan namanya disebutkan.

“Untuk keamanan sebuah aplikasi sebaiknya menggunakan Jasa Penetration Tester,” tutupnya. [wn]
loading...

Rekomendasi Untuk Anda