logo
×

Sabtu, 12 September 2020

Mualaf Hanan Sandercock, Temukan Kedamaian Hidup dalam Islam

Mualaf Hanan Sandercock, Temukan Kedamaian Hidup dalam Islam

DEMOKRASI.CO.ID - Sebagai gadis kelahiran desa kecil di Cornwall, Inggris barat daya, suasana multikultural di Cardiff, Wales, Inggris menarik hati Hanan Sandercock. Ia mulai mengenal kemajemukan dalam arti yang sesungguhnya.

Hanan lahir dengan nama Donna Sandercock. Pada 1990-an, ia tiba dengan penuh optimisme di Cardiff, Wales, untuk mencari pekerjaan.

Kala itu, ijazah sekolah seni sudah ada di genggamannya. Ia mengenang, periode itu menjadi tonggak perubahan nasibnya. Berbeda dengan masa 1970-an atau 1980-an, yang mana kehidupannya cenderung monoton.

Di kota itulah, ia berteman dengan seorang pemuda Muslim seusianya. Seiring waktu, Hanan mengenal agama Islam dan komunitas Muslim. Mereka menampilkan kesan religius. Tak hanya di tempat ibadah yang kala itu baru diketahuinya bernama masjid tetapi juga rutinitas di manapun berada.

“Saya tertarik. Agama sangat penting bagi mereka. Dan, mereka solid, memiliki suatu sistem kepercayaan yang tidak saya miliki waktu itu,” kata Hanan, seperti dilansir Wales Online, baru-baru ini.

Lebih dari itu, menurut Hanan, orang-orang Islam itu ramah. Seringkali Hanan diundang untuk jamuan makan malam di rumah keluarga Muslim. Ia sangat terkesan. Mereka menganggapnya bagian dari keluarga besar. Ini menimbulkan perasaan bahagia dalam dirinya.

Pada musim panas 1994, Hanan berkesempatan mengunjungi komunitas kibbutz di wilayah pendudukan Israel. Masyarakat setempat mengandalkan pertanian dan sangat menjunjung tinggi tradisi. Bagaimanapun, kesempatan tur itu ia manfaatkan pula untuk mengenal lebih dekat ke budayaan dan sejarah Muslim Palestina. Alih-alih Yahudi, ia justru lebih tertarik mempelajari Islam.

Di tengah hari yang panas, bersama dengan seorang teman saya tersesat. Tidak ada telepon seluler waktu itu, sedangkan kami kehabisan air, tutur Hanan. Ia mengenang, dalam kondisi sulit itu ia menggumamkan doa yang belum pernah sekalipun dipanjatkan sebelumnya. Dalam doanya, ia berkata, bila keluar dalam keadaan selamat, dirinya akan menjadi seorang Muslim. Ternyata, jauh di lubuk hatinya ia menemukan kedamaian dalam Islam.

“Itu bukan kata-kata yang pernah saya ucapkan sebelumnya, tetapi kesadaran itu ternyata ada di dalam diri saya,” ujarnya. Akhirnya, ia dan kawannya berhasil menemukan jalan keluar.

Hanan tidak menganggap main-main janjinya itu. Selanjutnya, ia terus memperdalam Islam. Dalam hal ini, Hanan banyak ditolong seorang kawannya asal Yaman. Saat temannya itu bertanya, ia berkata tegas, keinginannya menjadi pemeluk Islam didasarkan panggilan batin, bukan paksaan siapapun.

Sepulangnya ke Inggris, ia segera mencari imam yang dapat membimbingnya bersyahadat. Di Islamic Centre Butetown, perempuan itu akhirnya mengucapkan ikrar sakral: Asyhaduan Laa ilaaha illa Allah, wa asyhadu anna Muhammad Rasulullah. Prosesi ini disaksikan langsung Imam Syekh Said selaku tokoh Muslim setempat. Sejak menjadi Muslimah inilah, ia memilih Hanan sebagai nama barunya.

“Saya langsung merasa lega. Islam menjelaskan banyak hal kepada saya. Semua jawaban terkait hidup ini ya ada di sana. Saya menjadi bagian dari umat yang beragam,” katanya. Perubahan tidak hanya di lisan. Hanan juga mulai mengenakan kerudung atau abaya. Ia ingin menampilkan identitas diri sebagai seorang Muslimah. Beberapa bulan kemudian, ia menikah dengan seorang Muslim asal Aljazair yang sedang merantau di Cardiff.

Dari pernikahan ini, ia dikaruniai empat orang anak. Kini masing-masing berusia 22 tahun, 21 tahun, 14 tahun dan 10 tahun. Sayangnya, rumah tangga yang dibinanya terpaksa berakhir dengan perceraian. Keadaan lebih buruk lagi ketika 9/11 terjadi. Islamofobia menjamur di berbagai belahan dunia, termasuk Britania Raya. Hanan pun merasakan imbasnya.

Ia mendapati kabar, banyak perempuan Muslimah yang mengalami perundungan (bullying) di ruang-ruang publik karena busana tertutup yang dikenakannya. Karena takut diserang, Hanah memutuskan untuk berhenti mengenakan abaya.

Ia merasa, persekusi pasca-9/11 sungguh di luar batas kewajaran. Waktu era 1990-an, ia ingat, dirinya juga pernah diteriaki para lelaki di jalan-jalan Cardiff. Bagaimanapun, kebencian yang bernada rasisme usai serangan teroris 11 September sangat berbeda.

“Kerudung terus saya pakai, tetapi tidak abaya. Saya berhenti memakai abaya setelah 9/11. Saya tahu, kasus penyerangan atas beberapa Muslimah di Inggris atau Amerika. Waktu itu, saya berpikir, punya anak-anak yang masih kecil. Tidak ingin mengambil risiko,” katanya mengisahkan.
Follow
Terkoneksi dengan berbagai Sosial Media kami agar tetap terhubung dan mengetahui Informasi terkini.
Jangan Lupa Subscribe YouTube DEMOKRASI News: