
NBCIndonesia.com - Sebagai generasi penerus daerah kita harus menjaga kelestarian dan mempertahankan tradisi kita contohnya seperti silat.Tapi Sungguh sangat disayangkan "Hal-hal berbau tradisional dianggap ketinggalan zaman. Tak banyak yang tahu kalau silat tradisional memiliki permainan gerak bela diri yang ampuh serangan maupun pertahanan. Sebagai teknik bela diri, silat mampu melumpuhkan lawan hanya dalam beberapa gerakan saja," ungkap Ketua IPSI.
Ketua Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) Padang, Zulhardi latif, mengaku prihatin dengan generasi muda Sumbar khususnya Kota Padang yang kurang menggemari silat tradisional. Padahal sebetulnya Silek Minangkabau atau (silat Minangkabau,red) adalah seni beladiri yang dimiliki oleh masyarakat Minangkabau, Sumatera Barat, yang diwariskan secara turun temurun dari generasi ke generasi.
"Namun Sekarang ini generasi muda di Sumbar dirasakan masih kurang berminat untuk belajar silat tradisional," katanya. Silek minang mulai tergusur aliran beladiri lainnya, hal ini dapat dijumpai di setiap sekolah hampir semua sekolah exschoolnya tidak ada yang menampilkan silek, kebanyakan mereka lebih cenderung pada exschool karate dan aikido maupun exschool lainnya, hal ini diduga yang membuat silek Minang tidak lagi jadi kebanggan orang minang bahkan tidak lagi diketahui oleh generasi muda Minangkabau.
Menurut dia, sangat aneh dirasakan generasi muda di Sumbar sekarang ini lebih cenderung menyukai belajar karate atau kungfu yang berasal dari Jepang maupun China. Lanjutnya, padahal Silek Minangkabau menjadi bekal bagi anak muda minang sejak dulunya dalam merantau untuk menjaga diri dari hal-hal terburuk selama di perjalanan atau di rantau, misalnya diserang atau dirampok orang dan juga penting pertahanan nagari terhadap ancaman dari luar.
"Padahal negara asing seperti Belanda, Amerika sangat berminat ke Sumbar untuk belajar silat tradisional," ungkap dia. Di belahan dunia manapun pencak silat bukan lagi menjadi seni bela diri yang baru. Sebut saja Singapura, Filipina selatan dan Thailand, telah melahirkan pesilat-pesilat yang tangguh. "Namun seiring perkembangan zaman, pencak silat tradisional kini hampir kehilangan tradisi di Sumbar," jelasnya. Dia berharap Pemerintah Kota Padang memasukan silek sebagai kurikulum sekolah agar silek tidak menjadi asing dinegeri sendiri terutama di kalangan generasi muda.
Seperti pengakuan yang sangat memprihatinkan seorang Isrianto yaitu salah satu siswa SMA di Padang mengatakan "Saya tidak tahu apa itu silek dan di sekolah kami tidak memperkenalkan silek, yang saya tahu cuman Karate," katanya. Hal senada juga disampaikan Ivo, Siswi SMP, menurutnya pengaruh modernisasi dan perkembangan zaman telah mengikis budaya sehingga kami terasa asing dengan budaya sendiri, contohnya saja perkembang gadget dan pekembangan jejaring sosial sehingga perhatian kami terfokus pada itu saja."Kami hanya kenal dengan gadget dan facebook dan sebagainya tanpa diperkenalkan lebih jauh dengan budaya minang," tutupnya.(mkn)

