| Menlu Indonesia, Retno Marsudi, akan menemui Menlu AS, John Kerry, pekan depan. | (Sindonews/Victor Maulana) |
Retno menegaskan, kunjungan dan pertemuan Presiden Joko Widodo dengan Presiden Obama untuk memenuhi undangan resmi Presiden Obama, bukan menggunakan jasa konsultan atau broker seperti yang diberitakan.
"Itu undangan Presiden Obama dan melalui surat resmi," ujarnya kepada Republika.co.id, Sabtu (7/11).
Ia membantah informasi adanya penggunaan jasa konsultan asal Singapura, Pereira International PTE LTD, dan R&R Patners Inc dari Las Vegas hingga pembayaran yang mencapai 80 ribu dolar AS.
Retno menegaskan, persiapan kunjugan Presiden Joko Widodo tersebut telah dipersiapkan jauh hari. Persiapan kunjungan Presiden dilakukan secara resmi di bawah Kementerian Luar Negeri. "Persiapan terakhir dilakukan pada tingkat Menlu, saya dengan Menlu AS, John Kerry, di Washington pada 22 September 2015," katanya.
Jadi, semua proses kunjungan Presiden Joko Widodo bersama Presiden Obama melalui tahapan resmi, melalui undangan dari Gedung Putih, dan ada pertemuan awal dari pejabat tinggi di tingkat Menteri Luar Negeri. Bukan seperti yang beredar bahwa pertemuan Presiden Joko Widodo melalui proses lobi dari jasa konsultan.
Pernyataan Menlu Retno ini membantah kabar dari sebuah artikel dari situs New Mandala yang menjelaskan peran dua perusahaan jasa konsultan asal Singapura Pereira International PTE LTD dan Las Vegas AS R&R Patners Inc.
Artikel itu menyebutkan peran dua perusahaan jasa konsultan itu dengan bayaran 80 ribu dolar AS untuk melobi pertemuan Presiden Joko Widodo dengan Presiden Obama di Gedung Putih, Oktober lalu.(rol)

