logo
×

Selasa, 08 Maret 2016

Pak Jokowi Pulang Jalan Rusak Dibiarkan

Pak Jokowi Pulang Jalan Rusak Dibiarkan

“Pak Jokowi, sering-seringlah berkunjung, biar jalan menuju daerah kami selalu bagus,” kata salah seorang teman yang duduk di belakang kemudi mobil, ketika pulang dari arah Kabupaten Bener Meriah menuju Kota Takengon, Aceh Tengah dengan melintasi ruas jalan Bireuen-Takengon.

Siang itu memang cuaca panas terasa menyengat. Bahkan mengalahkan tiupan Air Conditioner (AC) mobil yang limit putarannya nyaris melewati garis maksimal. “Kota dingin siang ini terasa panas” gumanku dalam hati. Panasnya cuaca siang itu, membuat seisi mobil tak sanggup saling bertukar cerita.

Pasalnya, sepulang liputan kunjungan presiden Joko Widodo meresmikan Bandar Udara Rembele, seakan menyedot tenaga. Dari lima orang yang menumpang mobil, sebagian di antaranya sempat menutup mata, karena rasa lelah yang mendera.

Namun, teriakan kecil teman yang sedang konsentrasi di belakang kemudi mobil, membangunkan para penumpang yang ketika itu sedang menikmati rasa lelah. “hahahahahah, kenapa kau bilang seperti itu,” tanya temanku yang kepada sang sopir sembari dibarengi tertawa kecil.

“Kau lihat saja, jalan sepanjang dari Simpang Teritit, sampai ke Takengon. Begitu mau datang presiden, lubang kecilpun ditutupi, diperbaiki, dan dibuat rapi. Sebelumnya, seperti tidak ada yang peduli,” jawab sang sopir spontan sembari menjelaskan alasan, kenapa ia berteriak kecil meminta presiden untuk sering-sering berkunjung ke daerah itu.

Percakapan pun berlanjut, antara para penumpang mobil yang sebagian sebelumnya hampir terlelap karena kelelahan.

“Ya memang harus begitu. Kemarin kan rencananya Jokowi mau nginap di Takengon. Makanya jalan-jalan ini, segera diperbaiki dan dibersihkan. Kalau pun dia (Jokowi) tidak jadi datang, tapi jalanya,” sambung salah seorang temanku.

Pembahasan soal perbaikan beberapa ruas jalan menjelang kedatangan RI 1 ke dataran tinggi Gayo, akhirnya menjadi perbincangan hangat di mobil yang saya tumpangi. Kelima kuli tinta yang ada di dalam itu, mobil saling melemparkan opini masing-masing. Bahkan, musik yang sebelumnya mengalun menemani perjalanan terpaksa di-off-kan lantaran pembahasan terasa semakin menarik.

“Menurutmu bagaimana, kenapa harus menunggu pejabat datang, baru jalan dan sarana lain diperbaiki. Apa supaya terlihat indah dan rapi. Kalau nggak dibiarin begitu aja, yang penting bisa lewat,” sejurus pertanyaan diarahkan kepada saya yang pada itu, asyik menyimak perdebatan kecil antar sesama teman.

“Barangkali, momen ini menjadi kesempatan agar jalan ini, dibenahi,” jawabku singkat.

Perdebatan kecil berakhir seiring dengan mulai terlihatnya tugu pembuka jalan dua jalur di kawasan Paya Tumpi, Kota Takengon. Itu artinya, sejumlah penumpang mobil harus turun sehingga memutuskan debat kusir yang tidak melahirkan kesimpulan apa pun.

“Lain waktu kita sambung ya,” ungkap beberapa penumpang mobil yang lebih dulu turun.

Perdebatan kecil soal perbaikan jalan menjelang kehadiran Jokowi, bukan hanya terjadi di kalangan para wartawan sepulang liputan peresmian Bandar Udara Rembele. Beberapa warga di kota dingin itu, juga sempat membahas tentang kondisi beberapa ruas jalan yang diperbaiki serta diperindah menjelang kunjungan Jokowi.

Bahkan di media sosial, beberapa netizen sempat memasang status yang tidak jauh berbeda dengan kalimat yang dilontarkan sopir mobil yang pernah saya tumpangi tadi.

“Datang presiden, jalan-jalan mulai perbaiki”. “Besok presiden pulang, jalan rusak dibiarkan lagi” begitulah sebagian status sejumlah nitizen yang saya kutip dari media sosial facebook.

Kicauan warga serta perdebatan kecil antara wartawan ketika pulang liputan, cukup berasalan. Karena beberapa titik ruas jalan yang selama ini, rusak, berlubang, serta dipenuhi timbunan tanah longsor, khususnya di ruas jalan Bireuen-Takengon, nyaris tak dihiraukan.

Bahkan, ruas jalan negara di ruas di Kilometer 92, Kampung Kelupak Mata, Kecamatan Kebayakan, sempat diperbaiki secara swadaya oleh “sepasukan” Pemuda Pancasila (PP) Kabupaten Aceh Tengah dan Bener Meriah, karena kondisi badan jalan yang tergerus air sehingga menyulitkan para pengendara untuk melintas.

Begitu ada informasi Jokowi akan “pulang kampung” untuk meresmikan Bandar Udara Rembele, hampir semua komponen dibuat sibuk. Beberapa pihak terkait yang sebelumnya “diam” seakan kebakaran jengot lantaran jadual kunjungan Jokowi terkesan hadir dadakan. Jalan-jalan yang berpotensi akan dilintasi orang nomor satu di Indonesia ini, mulai dibenahi, dipoles, diperindah.

Bukan hanya di Kabupaten Bener Meriah yang menjadi daerah tujuan utama Jokowi. Namun dengan adanya rencana Jokowi akan menginap di Kota Takengon, sehingga ruas jalan dari arah Bandar Udara Rembele menuju Takengon, mulai disterilkan. Semuanya sibuk mengurusi persiapan kunjungan itu.

Bahkan ruas jalan yang kurang berpotensi dilintasi presiden, juga dibabat rapi dalam waktu singkat. Ujung-ujungnya, Jokowi hanya sekitar tiga jam berada di kampung keduanya. Jadual nginap di Kota Takengon pun batal.

Menyambut RI 1 yang telah dipersiapkan “setengah matang” menyita tenaga dan waktu, akhirnya pupus setelah pesawat TNI AU yang ditumpangi Jokowi lepas landas dari Bandara Udar Rembele.

Pelajaran yang paling menarik dari kunjungan Jokowi ke Gayo, yaitu sigapnya para petugas serta sejumlah pihak terkait dalam memoles, membenahi serta memperbaiki sarana umum yang rusak dalam waktu cepat. Tapi sayangnya, kesigapan dan kecepatan itu, hanya berlaku ketika para pejabat hendak mengungunjugi daerah penghasil kopi ini.

Bayangkan, respons cepat yang dilakukan para pihak ini bisa diaplikasikan ketika ada sarana umum yang butuh perbaikan, khususnya ruas-ruas jalan yang rusak, penataan keindahan kota.

Bisa dipastikan dua kabupaten di dataran tinggi Gayo ini, akan lebih indah dengan akses jalan yang mulus tanpa hambatan. Bukan hanya ketika “orang besar” mau datang, baru ada pembenahan. (tn)
Follow
Terkoneksi dengan berbagai Sosial Media kami agar tetap terhubung dan mengetahui Informasi terkini.
Jangan Lupa Subscribe YouTube DEMOKRASI News: