logo
×

Senin, 25 Juli 2016

Reshuffle Kabinet: Awal Agustus, Reshuffle Kabinet Pro Partai Politik bukan Pro Rakyat

Reshuffle Kabinet: Awal Agustus, Reshuffle Kabinet Pro Partai Politik bukan Pro Rakyat

Nusanews.com - Presiden Jokowi tiba tiba menginstruksikan untuk para menteri dala kabinet kerja untuk tidak keluar dari Jakarta, karena akan ada rapat paripurna tanggal 29 Juli 2016; dan kemungkinan informasi terkait Reshuffle akan diberitahukan oleh Presiden Jokowi pada rapat tersebut

Berikut pesan yang dikirim Mensesneg Pratikno kepada para menteri:

Bapak Ibu Kabinet Kerja yth, Menindaklanjuti arahan Bp Presiden, dimohon Bapak Ibu tidak meninggalkan Jakarta minggu ini (tgl 25 sd 29 Juli 2016) dikarenakan akan diselenggarakan Sidang Paripurna Kabinet dan diwajibkan utk hadir semua.

Atas perhatiannya disampaikan banyak terima kasih.

Pratikno

Untuk diketahui, dalam beberapa hari terakhir Presiden Joko Widodo sering memanggil sejumlah menteri di luar agenda resmi ke Istana Negara, Jakarta. Kali ini, giliran Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Basuki Hadimuljono, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Yohanna Yembise dan Menteri Koperasi dan UMKM Anak Agung Gde Ngurah Puspayoga, yang dipanggil Presiden Jokowi.

Akhir pekan kemarin giliran Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya, Menteri Pertanian Amran Sulaiman dan Menteri Agraria dan Tata Ruang (ATR)/Kepala BPN Pusat Ferry Mursyidan Baldan tiba-tiba dipanggil Presiden ke Istana Negara. Namun tiga menteri ini menampik pemanggilan terkait isu reshuffle kabinet kerja seperti dilansir dari laman media Merdeka.com

Reshuffle memang hak Prerogatif Presiden; namun sudah seharusnya Presiden memperhatikan kebutuhan dan kepentingan Rakyat didalam memutuskan nama nama menteri yang diganti dan nama nama yang akan mengisi posisi menteri yang ditinggalkan

Namun sepertinya, agenda Reshuffle kali ini adalah penuh dengan agenda politik, mendengarkan dan lebih banyak kepada politik kompromi bagi bagi kekuasaan

Reshuffle untuk memberi ruang tambahan bagi partai pendukung yang belum masuk dalam kabinet seperti Partai Golkar dan PAN

Reshuffle kini bukan lagi menjadi ajang evaluasi kinerja, namun telah menjadi komoditas politik untuk bagi bagi kekuasaan demi melanggengkan kekuasaan dua periode

Entah, kini dimana posisi rakyat dimata Presiden; sehingga pergantian menteri pun dilakukan tanpa perlu mendengarkan kebutuhan akan kepentingan pro rakyat, tetapi lebih mendengarkan tuntutan bagi bagi posisi partai pendukung, ironi. (ln)
Follow
Terkoneksi dengan berbagai Sosial Media kami agar tetap terhubung dan mengetahui Informasi terkini.
Jangan Lupa Subscribe YouTube DEMOKRASI News: