logo
×

Senin, 05 September 2016

77 Organisasi Peringati September Hitam

77 Organisasi Peringati September Hitam

Nusanews.com - Sebanyak 77 organisasi yang tergabung dalam Gerakan Masyarakat untuk Demokrasi memperingati “September Hitam”. Di antaranya, Aliansi Jurnalis Independen Indonesia, Aliansi Mahasiswa Papua, Gusdurian, Imparsial, Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan, Serikat Jurnalis untuk Keragaman, Perempuan Mahardhika, Belok Kiri Festival, dan beberapa lembaga bantuan hukum di berbagai daerah.

Feri Kusuma dari Kontras menjelaskan nama September Hitam dilatarbelakangi oleh berbagai kasus pelanggaran hak asasi manusia yang terjadi di bulan September. Salah satunya adalah pembunuhan terhadap Munir Said Thalib.

“Munir saat itu adalah aktivis yang paling vokal, berani, dan jujur mengungkap berbagai ketidakadilan,” kata Feri dalam pembukaan September Hitam di Lembaga Bantuan Hukum Jakarta, Minggu, 4 September 2016.

Namun, menurut Feri, pada 7 September 2004, Munir dibungkam, dibunuh dengan cara diracun. “Pelaku baru satu orang, itu pun dibebaskan,” ujarnya.

Aryo Wisanggeni dari AJI mengatakan di bulan September, korban dan keluarga korban pelanggaran HAM mengingat peristiwa itu. Seperti, peristiwa Tanjung Priok tahun 1984, peristiwa Semanggi II tahun 1999, dan pelanggaran HAM lain mulai Aceh sampai Papua.

Gerakan Masyarakat untuk Demokrasi , yang disingkat Gema Demokrasi, tak sekadar mengingatkan publik tentang kekejaman orde baru dan peristiwa belasan tahun lalu. Mereka juga memaparkan ada bentuk pengekangan kebebasan terhadap para korban maupun masyarakat yang ingin membuka ruang diskusi terkait peristiwa 65 selama 2014 hingga 2016.

“Belum lagi praktik-praktik kekerasan berbentuk pembungkaman ekspresi demokrasi lainnya seperti pelarangan terhadap perpustakaan jalanan di Bandung,” kata Aryo.

Feri Kusuma juga mencontohkan kriminalisasi terhadap Koordinator Kontras, Haris Azhar, adalah bentuk pembungkaman zaman sekarang. Haris membeberkan cerita terpidana narkoba Freddy Budiman, akhir Juli lalu. “Pola seperti ini terjadi di orde baru, tetapi korbannya ditangkap, diculik, lalu dihilangkan,” katanya.

Aryo menilai peringatan September Hitam esensinya adalah merawat ingatan tentang kejadian masa lalu itu. “Semoga tidak terulang kembali,” ujarnya. “Tentu di ruangan ini tidak ada yang mau diperlakukan secara kejam, namun inilah yang terjadi pada waktu itu.” (it)
Follow
Terkoneksi dengan berbagai Sosial Media kami agar tetap terhubung dan mengetahui Informasi terkini.
Jangan Lupa Subscribe YouTube DEMOKRASI News: