
Nusanews.com - Dalam perjuangan konfrontasi, gerakan-gerakan anti Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) yang radikal pasca kemenangan Ahok di Pilgub DKI 2017 akan mengalami metamorfosa sesuai dengan situasi politik.
Analisis itu disampaikan Direktur Eksekutif Asian Institute for Information and Development Studies, Syahganda Nainggolan (05/09).
Syahganda pun memaparkan skenario metamorfosa perjuangan konfrontasi melawan Ahok. “Skenario pertama adalah, Ahok jadi gubernur, luapan kebencian massa akan melumpuhkan Jakarta. Lumpuh dalam skala provinsi atau lumpuh dalam skala nasional,” tegas Syahganda Nainggolan.
Menurut Syahganda, perlawanan terhadap Ahok juga tergantung konsolidasi berbagai kekuatan yang bersinergi, yang melihat Ahok sebagai persoalan lokal atau Ahok sebagai bagian dari agenda regional RRC. “Kelompok ini, misalnya seperti Letjen (Purm) Johannes Suryo Prabowo, melihat peristiwa Ahok dan proxy war dengan RRC adalah sebuah agenda yang berhimpitan,” ungkap Syahganda.
Kata Syahganda, skenario kedua adalah Ahok menjadi gubernur, kelompok-kelompok strategis melokalisir persoalan Ahok hanyalah masalah Jakarta. Jika hal ini terjadi, maka akan muncul gerilyawan kota (Urban Guerrilla). AMJu, Anjas, Kobar, Forum RT RW, gerakan pribumi dan lainnya akan melanjutkan ‘perjoangannya’ melawan Ahok dalam skala kota Jakarta.
Untuk itu Syahganda mengingatkan bahwa kepemimpinan diktator justru akan melahirkan perlawanan yang keras, bahkan anarkis. “Pencapan diktator, akan melahirkan perlawanan yang lebih keras dan anarkis,” ungkap Syahganda.
Tak hanya itu, kata Syahganda, jika gerakan gerilyawan kota itu benar-benar muncul, seperti halnya The Squad, IRA di Irlandia, atau Hamas di Palestina atau Hezbollah di Libanon, Jakarta akan menjadi kota yang lumpuh. (it)

