logo
×

Senin, 05 September 2016

Peneliti Univ Leiden: Media Pro Ahok telah Bungkam Gerakan Muslim Tolak Ahok

Peneliti Univ Leiden: Media Pro Ahok telah Bungkam Gerakan Muslim Tolak Ahok

Nusanews.com - Sikap media massa partisan atau pendukung Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) jelang laga Pilgub DKI 2017, dikecam banyak pihak. Media-media pendukung Ahok dinilai tidak memberi “ruang” kepada warga Jakarta yang menolak Ahok.

Peneliti dari Universitas Leiden, Belanda, Buni Yani menilai, media massa pendukung Ahok, tidak satupun yang memberitakan aksi Umat Islam yang berdemontrasi menolak Ahok pada Ahad (04/09).

“Setelah melakukan riset, saya tidak menemukan berita demo kemarin mengenai penolakan umat Islam terhadap Ahok. Kompas sama sekali tidak membuat berita satu pun mengenai peristiwa penting tersebut,” tulis Buni Yani di akun Facebook.

Menurut Buni Yani, sangat mustahil Redaksi Kompas tidak paham apa yang disebut sebagai “news values” dalam ilmu jurnalisme. “Masa demo yang dihadiri oleh sekitar 10 ribu orang (versi Republika) dan seribu orang (versi Detik) tidak jadi berita? Sudah pasti ini merupakan kebijakan redaksi untuk tidak memberitakannya,” jelas Buni Yani.

Buni Yani mengaku melakukan riset dengan mengunjungi akun Twitter Kompas dan memeriksa berita yang diposting dalam waktu 24 jam terakhir. Tidak ditemukan ada berita mengenai demo penolakan Ahok tersebut.

“Alih-alih membuat berita yang bisa merugikan Ahok, yaitu berita penolakan tersebut, Kompas justru memposting setidaknya dua berita yang menguntungkan Ahok,” tegas Buni Yani. Berita yang menguntungkan Ahok yakni, Ahok mampu mengalahkan pamor pengantin ketika Ahok menghadiri satu undangan perkawinan. Berita kedua, Ahok akan jadi saksi dalam persidangan korupsi Sanusi.

Kata Buni Yani, kebijakan pemberitaan Kompas juga dilakukan oleh Media Indonesia, media lain yang juga mendukung Ahok. “Tak ditemukan satu pun berita yang sama diposting di akun Twitter-nya dalam waktu 24 jam terakhir,” jelas Buni Yani. (it)
Follow
Terkoneksi dengan berbagai Sosial Media kami agar tetap terhubung dan mengetahui Informasi terkini.
Jangan Lupa Subscribe YouTube DEMOKRASI News: