
Nusanews.com - Mulut, harimaumu. Dua pelajaran dialami Calon Gubernur (Cagub) DKI Jakarta petahana Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), atas sejumlah pernyataan-pernyataan kontroversialnya, saat berkampanye di dua kawasan di Jakarta Selatan dan Jakarta Barat lalu.
Kita bisa bilang bahwa Jakarta sudah lebih maju dengan beberapa gebrakan Ahok, pasca-menggantikan Joko Widodo (Jokowi) beberapa waktu lalu. Namun setiap pemimpin harus bisa jadi contoh dengan bersikap santun.
Tapi sayangnya kata-kata yang keluar dari mulut Ahok atas beberapa protes terkait kebijakan atau sejumlah isu, ditanggapi sinis, pedas dan bahkan menerobos “garis merah”. Seperti pernyataannya di Kepulauan Seribu yang melecutkan kemarahan umat Islam.
Kala itu, Ahok menyinggung soal Surah Al Maidah Ayat 51 dan sontak, sejumlah ormas Islam melaporkannya ke polisi. Kasus ini turut mengundang massa yang akan berdemo besar-besaran pada Jumat 4 November besok.
Isu ini sebenarnya masuk ranah pidana, tapi dalam dua kali blusukan-nya dalam rangka kampanye, Ahok justru kena batunya – ditolak oleh warga di Srengseng Sawah, Jakarta Selatan dan Rawa Belong, Jakarta Barat.
Penolakan yang pertama dialaminya di Srengseng Sawah, Jagakarsa, Jakarta Selatan. Agenda blusukan Ahok pada Senin 31 Oktober lalu, berubah jadi kacau dan tak bisa dilakukan hingga rampung, karena sejumlah warga menolak kehadiran Ahok.

Alasannya, warga yang berdemo dengan mengatasnamakan Forum Warga Lenteng Agung, tak ingin kampungnya didatangi (terduga) penista Alquran.
“Kampung kami kampung religius, Jagakarsa beragama. Intinya warga Jagakarsa itu menolak kampungnya diinjak oleh penista Alquran," ungkap Syuhada al-Aqso, orator demo warga di Jagakarsa, Senin 31 Oktober lalu.
Dia juga memaparkan, bahwa sedianya kedatangan Ahok tanpa sepengetahuan warga. Agenda pertemuan dengan warga yang mendukung, disebut sang orator juga bukan warga asli sekitar, melainkan warga yang didatangkan entah dari mana.
“Seluruh kegiatan yang dilakukan oleh penista agama di kampung kami, Kecamatan Jagakarsa, itu merupakan pengondisian tanpa diketahui oleh warga dan warga yang hadir di sana adalah setting-an. Apabila ada warga yang seolah-olah mendukung, maka warga tersebut adalah setting-an. Itu saya jamin,” cetusnya lagi.
Aksi warga itu memang hanya segelintir. Meski begitu, Ahok langsung ‘ngacir’ ke mobilnya yang tak jauh terparkir di lokasi.
Agenda blusukan berikutnya ke Pasar Kembang Rawa Belong, Palmerah, Jakarta Barat pada Rabu 2 November kemarin bahkan lebih ricuh. Ahok dilabrak sejumlah warga yang jumlahnya lebih banyak dari yang dialaminya di Srengseng.
Ditambah, aksi penolakan warga itu turut didukung tokoh ulama Habib Idrus al-Habsi.

Penolakan yang begitu kerasnya memicu ketegangan antara warga dan polisi yang mengawal Ahok. Kondisi yang kian memanas itu memaksa Ahok “kabur” naik angkot dari lokasi.
Tim sukses Ahok yang “tertinggal” juga disebut-sebut mengalami pengeroyokan, sampai-sampai mereka membuat laporan ke Polsek Kebon Jeruk. Namun beruntung, hal serupa tak kembali menderanya hari ini, saat berkunjung ke Pejaten Timur, Jakarta Selatan.
Bahkan Ahok menyatakan akan kembali blusukan besok, Jumat 4 November, di mana massa akan menggelar aksi demo besar-besaran menuntut Ahok. Pun begitu, Ahok tak segera memberi tahu ke mana dia akan blusukan besok.
Ahok juga mengaku tak meminta tambahan pengamanan untuk agenda-agenda kampanye berikutnya. “Besok blusukan, deh. Saya enggak tahu, kamu lihat nambah enggak (personil pengamanan)? Yang di mobil saya sih enggak nambah,” ungkapnya usai blusukan di Pejaten Timur.
Lantas, apakah penolakan-penolakan warga itu berarti Ahok takkan dipilih dan akan kalah di Pemilihan Gubernur (Pilgub) DKI 15 Februari mendatang? Pakar hukum tata negara Margarito Kamis menilai demikian.

"Menurut saya peristiwa itu menempatkan Pak Ahok dalam situasi harus mendefenisikan ulang gairahnya untuk jadi Gubernur. Sebagai pertanda awal kekalahan," tutur Margarito kepada Okezone, Rabu 2 November malam lalu.
Hal senada juga diungkapkan pengamat politik Universitas Paramadina Hendri Satrio. Dia berharap penolakan ini jadi pelajaran buat Ahok ke depannya, bahwa sebagian besar warga DKI tak terima pemimpinnya punya perilaku tak sesuai.
Hendri juga melihat, ke depannya akan jadi tantangan tersendiri buat tim sukses (timses) Ahok, untuk mengatur agenda blusukan lainnya.
"Mungkin ini bukan penghukuman ya. Kalau penghukuman nanti saja, pas pencoblosan. Tapi ini jadi pelajaran penting buat Ahok," timpal Hendri dalam pesan singkatnya kepada Okezone, Rabu 2 November 2016.
"Kasihan Pak Ahok ditolak warganya sendiri. Walau sedang cuti, dia kan tetap Gubernur Jakarta. Ini pekerjaan rumah bagi tim Ahok agar mampu membuat Ahok diterima masyarakat Jakarta," tandasnya.
Tapi di sisi lain, salah satu “awak” timses Ahok, Charles Honoris, menilai orang-orang yang menolak Ahok di Srengseng Sawah dan Rawa Belong, bukan warga sekitar yang sebenarnya. Politikus PDIP yang juga anggota Komisi I DPR RI ini, menyebut mereka yang “menjegal” Ahok memang datang ke lokasi sengaja cari ribut.
“Selama ini tidak ada penolakan dari warga di tempat-tempat di mana Pak Ahok datang untuk menyapa warga. Mereka (penolak Ahok) datang untuk membuat keributan yang berakibat pengeroyokan,” papar Charles, Kamis (3/11/2016). (ok)

