logo
×

Jumat, 07 Juli 2017

Jalani Pemeriksaan di Kejagung, Pakar Hukum : Kasus HT Sarat Muatan Politis

Jalani Pemeriksaan di Kejagung, Pakar Hukum : Kasus HT Sarat Muatan Politis


NUSANEW, JAKARTA -  Pemilik MNC Group Hary Tanoesudibjo tengah menjalani pemeriksaan di Kejaksaan Agung terkait kasus korupsi restitusi pajak PT Mobile 8 periode 2007-2009. Kuasa hukum Hary Tanoe, Hotman Paris Hutapea menyebut kasus tersebut sarat muatan politis.

“Saya melihat dari sisi hukum pasca pilkada DKI 2 kasus meledak yaitu dibuka lagi kasus yang sudah praperadilan dan sms ancaman pada Januari 2016 berarti 1 setengah tahun tidak pernah ada masalah,” ujar Hotman, Kamis (6/7).

Hotman mengungkapkan, bahwa surat pemanggilan yang dilayangkan Kejagung saat ini sama persis dengan tahun lalu. Yaitu restitusi pajak PT Mobile8, yang sudah Pengadilan Negeri Jakarta Selatan.

“Diputus bukan kewenangan Kejaksaan, karena itu menyangkut pidana pajak. Dugaan pidana pajak yang merupakan kewenangan PPNS Ditjen Pajak,” jelasnya.

“Setelah praperadilan tersebut, Kejaksaan telah dengan sukarela SP3 bahkan dalam SP3 tersebut menunjuk pada putusan praperadilan,” tambah dia.

SP3, lanjut Hotman, berisi penghentian penyidikan dugaan tindak pidana restitusi perpajakan di PT Mobile 8. Untuk itu, Hotman merasa aneh kenapa perkara yang sudah diputus pengadilan kini dibuka kembali.

“Kita bingung perkara yang sudah diputus pengadilan, isinya juga sama dengan SP3, kenapa sampai dibuka lagi. Yang jelas Kejaksaan dengan SP3 jelas telah menyebutkan menghentikan dugaan pidana restitusi pajak di Mobile8 sesuai dengan putusan praperadilan,” tuturnya.

Hotman menegaskan, putusan praperadilan ketika itu menyangkut kewenangan kompetensi absolut. “Dimana masalah restitusi pajak bukan kewengan Kejaksaan artinya mau 1000 bukti baru pun yang diberikan kalau terkait pajak bukan kewenangan Kejaksaan. Kalau alasanya ada bukti baru, ya SP3-nya di buka dulu dong, terus bagaimana itu putusan praperadilan,” katanya.

Ia pun mengingatkan pembatalan status tersangka bukan dilatarbelakangi kurangnya alat bukti. “Melainkan kasus dugaan restitusi tersebut bukan kewenangan kejaksaan.”

Sementara itu, Hotman juga menuding adanya conflict of interest dalam kasus tersebut. Pasalnya, Jaksa Julianto kini tengah berperkara dengan kliennya.

“Jaksa Julianto berpekara dengan HT di Mabes Polri, tapi dia juga jadi memimpin penyidik di Kejaksaan jadi itu namanya Conflict Of Interest,” pungkasnya. (akt)
Follow
Terkoneksi dengan berbagai Sosial Media kami agar tetap terhubung dan mengetahui Informasi terkini.
Jangan Lupa Subscribe YouTube DEMOKRASI News: