logo
×

Minggu, 30 Juli 2017

Tiap Tahun, 8 Ribuan Kasus Pelanggaran HAM Dilaporkan WNI

Tiap Tahun, 8 Ribuan Kasus Pelanggaran HAM Dilaporkan WNI

NUSANEWS, JAKARTA - Komisioner Komnas HAM, Natalius Pigai menjadi satu-satunya tokoh Indonesia asal Papua yang dianugerahi penghargaan Democracy Award 2017.

Sebuah penghargaan di ajang tahunan Malam Budaya Manusia Bintang 2017 Kantor Berita Politik RMOL (Rakyat Merdeka Group).

Pria kelahiran Paniai, Papua, ini mengaku bangga dan senang menerima penghargaan tersebut. Dalam sambutannya pada acara yang digelar di Hotel Aryaduta, Jakarta Pusat, Sabtu (29/7) malam itu, Pigai pun berkisah tentang pengalamannya jadi komisoner Komnas HAM.

"Setiap tahun, ada 8 ribu lebih laporan yang masuk ke Komnas HAM. Sebanyak 60 persen di antaranya, saya tangani langsung. Bisa dihitung sendiri ya berapa jumlah kasus nya ya," tutur Pigai disambut gelak tawa hadirin.

Dari sekian banyak laporan yang masuk, salah satu yang disoroti Pigai adalah terkait kasus ujaran kebencian (hate speech). Bahkan, Pigai mengaku bahwa dirinya pun pernah menjadi korban hate speech.

Tak tanggung-tanggung, oknum yang tidak senang terhadapnya, mengganti nama Pigai di halaman Wikipedia dengan sebutan bernada rasis.

"Nama saya pernah diganti dengan pemeran film buatan Hollywood, Kingkong. Saya bilang, 'Mantap'," ungkap pria berkulit gelap itu disambut riuh tamu undangan.

Menurut Pigai, dirinya juga pernah disebut dengan panggilan nama hewan oleh salah satu imam besar Ormas Islam. Hanya saja, dirinya tidak terlalu menggubris hal tersebut.

Menariknya, beberapa bulan setelah itu, kelompok ormas yang kerap dicap radikal itu, melapor ke Komnas HAM terkait kasus dugaan pelanggaran HAM yang mengarah ke Imam Besar mereka.

Saat itu, tidak satu pun dari 11 Komisioner Komnas HAM yang berani menemui perwakilan ormas atau pun menerima laporan tersebut. Akhirnya, Pigai sendiri yang memutuskan menjadi Ketua Tim Pencari Fakta (TPF) laporan tersebut.

Aktivis kemanusiaan itu, menilai dirinya harus bersikap profesional dan mengenyampingkan persoalan pribadi yang pernah menempatkannya sebagai korban hate speech.

"Artinya, tidak perlu membawa masalah pribadi ke wilayah pekerjaan. Buat saya, kalau ada hate speech biarkan saja. Percuma diladeni, cuma buang-buang energi saja," paparnya diikuti tepuk tangan para tamu.

Dalam acara tersebut, selain Pigai, ada delapan tokoh lainnya yang juga menerima penghargaan serupa. Antara lain, Walikota Makassar, Sulawesi Selatan, Danny Pomanto, Ketua DPD RI, Oesman Sapta Odang, Menteri Perhubungan, Budi Karya Sumadi dan Agus Harimurti Yudhoyono. Serta, Dirjen Otda Kemendagri Soemarsono, Gubernur Sumatera Barat Irwan Prayitno, Sekda Pemprov Jawa Barat Iwa Karniwa, dan Pengelola Statuter AJB Bumiputera, Adhie Massardi.

Tak hanya Democracy Award, Kantor Berita Politik RMOL juga memberikan tiga kategori penghargaan lainnya, yaitu Lifetime Achievement Award, Golden Personality Award, dan Golden Community Award.

Rinciannya, ada tujuh penerima Golden Personality Award. Diantaranya, pengusaha Sukur Nababan yang juga anggota DPR RI, Kepala RSPAD, Mayjen Terawan Agus Putranto, Ketua Kwarcab Pramuka Kota Bandung, Yossi Irianto, dan Tim Penggerak PKK Pesisir Selatan, Sumbar, Lisda Rawdha.

Penghargaan serupa juga diberikan kepada dua aktivis anti narkoba dari Binjai, Sumatera Utara, Wak Ong, dan Lury Elza dari Sumatera Selatan, serta pianis tunanetra muda berbakat, Ade Wonder Irawan.

Sementara itu, dua seniman dan budayawan nasional, Jaya Suprana dan Titiek Puspa mendapatkan anugerah tertinggi Lifetime Achievement.

Sedangkan untuk Golden Community Award diberikan kepada kelompok peneliti Kampung IT yang dipimpin Tris Prayogo Muslim yang menciptakan sepatu untuk kaum tunanetra.

Lalu, penghargaan serupa juga diberikan kepada Tim Terpadu Riset Mandiri (TTRM) yang beberapa waktu lalu melakukan penelitian di situs megalitukum Gunung Padang di Cianjur.  (rm)
Follow
Terkoneksi dengan berbagai Sosial Media kami agar tetap terhubung dan mengetahui Informasi terkini.
Jangan Lupa Subscribe YouTube DEMOKRASI News: