
Oleh: Iswandi Syahputra*
Melihat alotnya proses pemasangan Capres/Cawapres, kemungkinan Pilpres akan diikuti oleh 3 Poros:
1). Jokowi- Moeldoko/Mahfud/TGB
2). Gatot-Cak Imin
3). Prabowo-AHY/CT
Bila ada 3 poros tersebut, Jokowi bisa kalah pada putaran kedua. Dan kemungkinan yang menang adalah Gatot/Cak Imin. Opsi ini juga dengan catatan, tergantung siapa Cawapres Jokowi?
Tapi jika hanya ada 2 Poros, kemungkinan Jokowi akan terpilih kembali. Opsi ini juga dengan catatan, tergantung Cawapres Jokowi?
Jika lawan terberat Jokowi adalah Prabowo, maka, bagi Prabowo tidak perduli siapa Cawapresnya, intinya:
1). Prabowo ingin Cawapres yang:
– Bisa benahi ekonomi
– Diterima SBY sebagai senior dan mitra koalisi paling strategisnya. Hal ini memunculkan nama Chairul Tanjung (CT) atau AHY.
2). Tapi CT dan mungkin AHY tidak diterima oleh kelompok 212, PAN dan PKS.
3). Kelompok 212, PAN dan PKS sendiri tidak bulat soal Cawapres. Kelompok 212 dam PAN maunya UAS, tapi PKS maunya Salim Al-Jufri. Mungkin juga UAS dan Salim tidak diterima oleh SBY.
Jalan buntu koalisi ini menjadi menarik untuk mendorong poros ketiga yang mengusung:
– Gatot/CT
– Gatot/Salim
– Gatot/UAS
Jadi, Prabowo diminta legowo. Itupun masih mengandung potensi _deadlock_ lagi karena:
PAN/Kelompok 212, ngotot Cawapres UAS.
Demokrat ngotot Cawapres CT/AHY.
PKS ngotot Cawapres Salim.
atau
– Gatot/Cak Imin
Hasil kubu ini juga dicermati dengan sangat sekama oleh kubu Jokowi sebagai incumbent karena posisi Cawapres Jokowi bukan lagi sendal atau daun kering atau apapun yang dipasangkan ke Jokowi pasti menang. Kali ini perjuangan Jokowi agak berat. Posisi Cawapresnya sangat menentukan.
Salam Damai
SUMBER

