| Sungai Jatijajar diduga telah tercemar limbah pabrik sehingga airnya berwarna hitam keruh dan bau. Tercemarnya sungai itu dikeluhkan warga |
Akibat pencemaran limbah pabrik tersebut, air sungai berubah warna menjadi coklat kehitam-hitaman dan menimbulkan bau menyengat. Dengan kondisi seperti itu, air yang semula digunakan untuk mencuci dan mengaliri perasawahan, sekarang tidak dapat lagi dimanfaatkan oleh warga sekitarnya.
“Pencemaran sungai sudah terjadi sekitar setahun lalu. Warna airnya coklat kehitaman, terkadang putih berbuih,” kata Nurkholis (45) warga Desa Jatijajar RT 2 RW 5, Kecamatan Bergas, Sabtu (7/11).
Kalimat serupa juga diungkapkan Anwar (36) warga Desa Jatijajar RT 1 RW 3, Kecamatan Bergas, menurutnya aliran air kali yang berada dibelakang rumahnya itu, dulunya sangat jernih.
"Dulu airnya jernih hingga anak-anak tiap sore banyak yang berenang di sungai. Namun karena banyaknya pabrik dan limbahnya dibuang ke sungai, jangankan dipakai renang, ikan saja sudah tidak ada karena mati," katanya.
Air limbah yang mencemari sungai, lanjutnya lebih terasa dampaknya oleh masyarakat saat musim kemarau, sebab air limbah ini tidak terbawa air hujan.
"Kalau hujan, air limbah ini langsung terbawa aliran sungai. Tapi kalau musim kemarau seperti saat ini, air sungai lebih sedikit dan lambat mengalir hingga baunya lebih menyengat. Tidak itu saja, kalau kemarau air limbah yang menggenangi sawah tidak terbuang ke sungai hingga mengendap di sawah. Makanya kalau kemarau, terkadang padi yang ditanam jadi mati" imbuhnya.
Sementara saat dihubungi, Humas Organisasi Pelestari Sungai Indonesia (OPSI) Kabupaten Semarang, Amin mengaku sudah melakukan monitoring di sungai tersebut.
“Jika dilihat dari warna airnya, memang telah berubah dan berbau. Kami duga ada pabrik yang outlet pembuangannya ke sungai ini,” terangnya.
Pihaknya juga telah melaporkan masalah ini ke Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kabupaten Semarang dan telah dilakukan pantauan di lapangan dan mediasi dengan perusahaan yang diduga membuang limbah sebelum melalui proses pengolahan.
“Ada 4 pabrik yang outletnya di alirkan ke sungai, yakni CC, RF, TPN, dan CMR. Tetapi saat dilakukan audiensi hanya tiga perwakilan pabrik yang datang. Sedangkan perwakilan pabrik yang tidak mau datang itu yakni pabrik tisu TPN,” kata Amin.

