
NUSANEWS, JAKARTA - Pengungkapan ratusan WN Tiongkok sindikat penipuan internasional di Jakarta, Surabaya, Bali dan Batam jadi pengungkapan kejahatan cyber terbesar di Indonesia.
Total, 150 WNA diringkus. Rinciannya dari Pondok Indah, polisi membekuk 29 orang dan dari Kuta Selatan, 28 orang diringkus.
Di Surabaya, total 93 orang, rinciannya 12 WN Taiwan, 1 WN Malaysia, 1 WNI, dan sisanya WN Tiongkok. 26 orang di antara mereka perempuan dan semuanya berasal dari Tiongkok.
Kabag Humas Ditjen Imigrasi Kemenkumham, Agung Sampurno saat dihubungi Jawa Pos (induk grup pojoksatu.id) mengakui, Indonesia jadi surga para pelaku kejahatan transnasional.
Pihaknya pun mengendus kegiatan kejahatan transnasional yang beroperasi di Indonesia. Tak hanya kejahatan siber, ada pula misalnya kejahatan narkoba dan terorisme.
“Di daftar kita saja untuk terorisme, ada puluhan orang Indonesia yang kita pantau,” ujarnya, Minggu (30/7).
Data itu, lanjutnya, selalu ada setiap harinya dan selalu bertukar data dengan otoritas negara lain.
Seperti halnya penangkapan WN Tiongkog sindikat penipuan online internasional di Jakarta, Surabaya, Bali dan Batam.
“Pertukaran data bukan hanya milik Indonesia, kita bertukar data dengan negara lain. Kasus yang kemarin ini tukar data antara polisi Indonesia dengan polisi China,” bebernya.
Menurutnya jika tidak dilakukannya pertukaran data, tentu para pelaku kejahatan lintas negara sulit ditangkap.
“Mereka ini canggih, jaringannya luas dan mobilitasnya tinggi,” jelasnya.
Indonesia sendiri memang telah menerapkan kebijakan bebas visa yang membuat WNA bisa masuk wilayah Indonesia.
Sayangnya, tak semua orang-orang yang masuk ke Indonesia itu memiliki niat baik.
Selain itu, bukan perkara gampang untuk memantai setiap kegiatan WNA usai mereka mengajukan permohonan visa atau tidak.
Karenanya, imigrasi maupun pihak terkait meningkatkan pengawasan.
“Konsekuensi dari itu tentu pengamanan lebih baik, pengawasan lebih baik,” pungkas Agung. (ps)

