logo
×

Senin, 06 Februari 2023

Jelang Vonis, LPSK Buka-bukaan Lagi Soal Amplop Cokelat dari Anak Buah Ferdy Sambo: ‘Pelicin’ Itu Bukan yang Pertama..

Jelang Vonis, LPSK Buka-bukaan Lagi Soal Amplop Cokelat dari Anak Buah Ferdy Sambo: ‘Pelicin’ Itu Bukan yang Pertama..

DEMOKRASI.CO.ID - Wakil Ketua Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK), Edwin Partogi, kembali menyinggung soal amplop cokelat dari Ferdy Sambo yang diterima oleh dua staf wanitanya beberapa hari setelah insiden pembunuhan Brigadir J.

Awalnya, Edwin mengungkap soal kecurigaan LSPK kalau kasus penembakan Brigadir J akan menjadi kasus besar. Mereka pun proaktif dengan mendalami kasusnya ke Polres Jakarta Selatan dan akhirnya menerima informasi soal tembak-menembak pada Selasa (12/7/2022).

Pada Rabu (13/7/2022), LPSK kemudian bertemu dengan Ferdy Sambo di kantornya. Dalam kesempatan tersebut, eks Kadiv Propam itu meminta untuk diberikan perlindungan kepada Putri Candrawathi dan Bharada E.

Setelah bertemu Ferdy Sambo, staf LPSK pun menemui Bharada E. Saat itu, ia masih menceritakan soal skenario tembak-menembak dengan Brigadir J. Namun, ada yang janggal dalam pertemuan tersebut.

LPSK merasa janggal karena Bharada E menyinggung overmacht seolah menyatakan kalau ia tidak bisa dipidana. Mereka kemudian menduga ada yang mendoktrin Richard soal overmacht, yaitu perbuatan pidana yang tidak bisa dipidana karena membela diri.

Selain itu, dalam pertemuan di kantor Kadiv Propam tersebut, dua staf wanita LPSK juga menerima map yang isinya dua amplop cokelat dari anak buah Ferdy Sambo. Momen itu terjadi saat salah satu staf LPSK sedang salat.

“Ada hal yang ramai soal amplop cokelat, ada dua. Jadi itu ditaruh di dalam map pada tanggal 13 (Juli 2022). Kan dua orang staf kami ke sana, salah satu sedang salat asar, satunya di tempat, ini keduanya perempuan,” ucap Edwin dikutip Populis.id dari kanal YouTube Irma Hutabarat – HORAS INANG pada Senin (6/2/2023).

Ia melanjutkan, “Kemudian stafnya Sambo datang membawa map ‘ini titipan dari bapak’. Sama staf (LPSK) langsung dibuka map itu, (ada) dua amplop cokelat. Dengan serta-merta, oleh staf kami ditolak karena enggak ada urusannya amplop itu sama tugasnya LPSK.”

Edwin kemudian mengungkap kalau cerita itu sebenarnya hanya disampaikan oleh pihaknya ke Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam), Mahfud MD.

Namun, saat diwawancarai oleh sebuah televisi swasta, Mahfud mengungkap soal pemberian amplop cokelat tersebut. Saat itu, ia menyampaikan kalau LPSK diberikan amplop cokelat oleh anak buah Ferdy Sambo di Saguling.

Melihat latar tempat yang keliru, LPSK kemudian menyampaikan klarifikasi bahwa peristiwa itu memang terjadi tetapi bukan di Saguling, melainkan di kantor Propam. Hal itulah menjadi awal terkuaknya upaya pemberian amplop cokelat.

LPSK mengaku sebenarnya tidak mau mencari panggung dengan peristiwa amplop cokelat itu karena upaya memberikan ‘pelicin’ memang sering mereka terima dan ujung-ujungnya juga selalu ditolak.

“Sebenernya kan kami enggak mau cari-cari panggung. Maksudnya soal amplop-amplopan, soal upaya memberikan pelicin segala macem itu, bukan yang pertama, sudah sering. Tapi selalu sikap di atasnya itu sama, tolak. Itu yang paling aman,” pungkasnya.[populis]
Follow
Terkoneksi dengan berbagai Sosial Media kami agar tetap terhubung dan mengetahui Informasi terkini.
Jangan Lupa Subscribe YouTube DEMOKRASI News: